BERITANET.ID — Langkah pembaharuan regulasi kepariwisataan di Kota Yogyakarta memasuki babak baru. Melalui pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kota Yogyakarta (RIPPARDA) 2026–2045, Pansus DPRD Kota Yogyakarta mendorong perubahan paradigma pembangunan pariwisata agar mengedepankan aspek keselamatan, kesiapsiagaan darurat, serta jaminan layanan kesehatan bagi para pelancong.
Ketua Pansus DPRD Kota Yogyakarta, Krisnadi Setyawan, menyebutkan bahwa karakter pariwisata perkotaan menyatu erat dengan denyut kehidupan masyarakat lokal, sehingga regulasi yang disusun harus responsif terhadap potensi ancaman keselamatan di tempat umum.
”RIPPARDA tidak cukup hanya mengatur promosi dan pengembangan destinasi. Dokumen tersebut juga perlu mengantisipasi risiko penyelenggaraan pariwisata perkotaan, terutama di kawasan yang menjadi pusat kunjungan wisatawan sekaligus ruang aktivitas masyarakat,” ucap Krisnadi Setyawan.
Krisnadi meminta seluruh pimpinan OPD terkait untuk duduk bersama menyusun skema integrasi program mitigasi agar penanganan situasi darurat tidak berjalan sendiri-sendiri saat terjadi kendala di lapangan.
Sementara itu, Anggota Pansus DPRD Kota Yogyakarta, Fajar Kurniawan, mendorong pemasangan rambu-rambu petunjuk keselamatan yang informatif dan mudah diakses oleh wisatawan, khususnya di pusat keramaian utama.
”Kawasan wisata dengan tingkat kunjungan tinggi seperti Malioboro perlu dilengkapi informasi jalur evakuasi, titik kumpul, petunjuk keselamatan, dan prosedur penanganan pengunjung ketika terjadi keadaan darurat,” kata Fajar Kurniawan.
Guna memastikan penanganan darurat berjalan sigap, Fajar menekankan pentingnya penguatan sinergi antara tim Public Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat), serta BPBD Kota Yogyakarta.
Gayung bersambut, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, menegaskan bahwa ketertiban dan jaminan keamanan merupakan modal utama untuk menjaga nama baik Kota Yogyakarta di tingkat nasional maupun internasional.
Lucia juga menawarkan ide strategis berupa pengembangan layanan pariwisata berbasis kesehatan (medical and wellness tourism) yang mengolaborasikan instansi kesehatan, lembaga perizinan, dan media komunikasi digital.
Melalui penguatan sistem proteksi dan inovasi wisata medis tersebut, wisatawan diharapkan tidak hanya menikmati pesona budaya dan keindahan Kota Yogyakarta, tetapi juga merasakan tingkat keamanan dan kemudahan akses medis yang terjamin selama kunjungan mereka.
