Menggugah Daya Kritis Generasi Muda, MPI DIY Ajak Mahasiswa Kawal Demokrasi dari Ancaman Global

BERITANET.ID : Fenomena kemunduran demokrasi yang kini merambah berbagai belahan dunia menuntut kepekaan kolektif dari generasi muda Indonesia. Di tengah dinamika politik yang sarat tantangan tersebut, mahasiswa dan kaum intelektual muda dinilai harus berdiri di garda terdepan untuk memastikan jalannya pemerintahan tetap berada dalam koridor pengawasan yang sehat.

​Pesan tegas tersebut mengemuka dalam forum dialog kebangsaan bertajuk “Pemuda dan Masa Depan Kebangsaan” yang diselenggarakan oleh Matahari Pagi Indonesia (MPI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.

​Ketua MPI DIY, Fadul Muhammad Firdaus, mengungkapkan bahwa kegiatan ini diinisiasi untuk menyediakan ruang bagi pemuda dalam bertukar gagasan sekaligus mengasah ketajaman berpikir terhadap isu-isu publik. Ia menegaskan, melontarkan kritik konstruktif terhadap kebijakan pemerintah merupakan hak sekaligus kewajiban yang wajar di alam demokrasi.

​”Pemerintah itu perlu pemuda-pemuda ini untuk membisiki, mengkritisi, karena kita hidup di negara demokrasi. Kritik itu biasa, kita harus banyak-banyak menerima kritik,” ungkap Fadul di hadapan para peserta.

​Fadul menganalogikan kritik publik layaknya jamu yang pahit namun berkhasiat menyehatkan sistem pemerintahan. Oleh karena itu, pihaknya membuka lebar berbagai ruang penyampaian aspirasi—mulai dari diskusi intelektual hingga aksi unjuk rasa damai—selama dijalankan secara beretika tanpa ada unsur provokasi maupun anarkisme.

​Pandangan tersebut diperkaya oleh pemaparan Guru Besar FISIPOL UMY, Prof. Dr. phil. Ridho Al-Hamdi, S.Fil.I., M.A., yang menyoroti bahwa erosi demokrasi telah menjadi tren lintas negara di kawasan Asia Tenggara. Ia mencontohkan instabilitas politik di Malaysia serta dinamika pergantian kekuasaan di Filipina sebagai bukti nyata bahwa konsolidasi demokrasi di tingkat regional membutuhkan pengawalan ketat dari kelompok kritis.

​Sebagai penutup rangkaian acara, seluruh perwakilan organisasi mahasiswa dan akademisi yang hadir bersama-sama membacakan deklarasi lima poin komitmen Sumpah Pemuda. Deklarasi ini memuat tekad bulat untuk merawat kerukunan nasional, menolak segala bentuk kekerasan, serta menjaga situasi keamanan dan kedamaian di Yogyakarta.