Catat, Pasar Kangen Yogyakarta 2025 Digelar 18-24 September di TBY

BERITANET.ID : Pasar Kangen  2025 akan kembali digelar di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 18-24 September 2025.

Perhelatan yang seharusnya dijadwalkan berlangsung pada 7-13 September 2025 itu sebelummya ditunda pasca Yogyakarta diwarnai gelombang unjuk rasa dan meningkatnya pengamanan. Terutama di kawasan Malioboro dan sekitarnya.

“Selama tujuh hari penuh Pasar Kangen Yogyakarta akan digelar kembali untuk warga dan wisatawan, setiap hari mulai pukul 15.00-22.00 WIB,” kata Kepala Taman Budaya Yogyakarta Purwiati, Jumat, 12 September 2025.

Festival tahunan yang kinu mengusung tajuk Nandur Opo Sing
Dipangan, Mangan Opo Sing Ditandur (Menanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam) itu akan diramaikan tak kurang 200-an booth kuliner- cenderamata tradisional berbagai pelosok Nusantara.

Peserta yang mendaftarkan diri dalam perhelatan itu sempat tercatat sebanyak 1136 pendaftar. Namun kemudian saat dikurasi tersisa menjadi 152 untuk kuliner tradisional dan 66 kerajinan atau barang antik.

Jumlah peserta gelaran tahun ini terpaksa dipangkas karena area Taman Budaya Yogyakarta tengah melakukan proyek rehabilitasi sebagian bangunannya.

Meski jumlah peserta dikurangi, ujar Purwati, dari sisi kelengkapan acara tetap berupaya dipenuhi. Tak sekedar menjadi ajang unjuk gigi kuliner dan cenderamata tradisional. Namun tetal ada gelaran pertunjukkan.

Dalam sepekan itu, ada 19 kelompok kesenian yang akan mengisi event dan dua kali pergelaran wayang kulit.

Inisiator Pasar Kangen Yogyakarta, Ong Hari Wahyu mengatakan, tak hanya jumlah peserta yang dikurangi namun durasi gelaran itu juga diperpendek kali ini. Tak lagi 10 hari melainkan hanya 7 hari.

“Jika event tahun kemarin itu selama 10 hari, sekarang hanya 7 hari sebagai wujud dukungan soal berbagai kebijakan efisiensi yang sekarang sedang digaungkan,” kata Ong.

Pasar Kangen sendiri pelaksanaanya menggunakan Dana Keistimewaan Yogyakarta, yang belakangan tiap tahun terus dipangkas alokasinya oleh pemerintah pusat.

“Namun durasi ini tidak mengubah esensi apapun, jika biasanya peserta 10 hari terus berjualan, sekarang sisanya 3 hari untuk rehat,” kata dia.

“Yang penting bagi kami bahwa Pasar Kangen itu bisa tetap sustain, keberlanjutannya ini yang penting,” kata dia.

Soal tajuk yang diusung, Ong mengatakan implementasinya pada bahan produk-produk pangan yang digunakan peserta. Misalnya peserta hanya bisa mengolah kuliner itu dari bahan baku lokal seperti singkong, jagung dan lainnya. Dan mengganti bahan impor seperti terigu.

“Misalnya ada yang jual mie, kami akan tanya bahannya apakah dari terigu atau tidak, jika memakai terigu kami minta mengganti dengan bahan lokal, karena terigu bukan milik kita,” kata dia

Ia menekankan kurasi peserta sangat ketat sehingga tak sembarangan makanan bisa dijajakan jika dinilai kurang mengangkat unsur lokalitas.

“Kami tidak menolak namun pasar ini hanya makanan jadul (jaman dulu) dan bahannya lokal,” kata dia.