BERITANET.ID – Yogyakarta kembali menjadi titik pertemuan penting bagi komunitas internasional dan domestik. Ribuan jemaah Saksi-Saksi Yehuwa memadati Grand Pacific Hall selama tiga hari, 12-14 Desember 2025, untuk Pertemuan Regional bertajuk “Ibadah Murni”.
Selain aspek kerohanian, kehadiran acara berskala besar ini diperkirakan memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian lokal kota.
Organisasi non-profit ini dikenal sebagai salah satu penyelenggara pertemuan terbesar di dunia. Dengan diperkirakan lebih dari 2.500 hadirin memadati kota Yogyakarta selama akhir pekan tersebut, sektor pariwisata, akomodasi, dan transportasi lokal menikmati lonjakan permintaan yang substansial.
Juru Bicara Saksi-Saksi Yehuwa, Iwan Budhiharto, menegaskan bahwa meski fokus utama adalah rohani, manfaat sosial dan ekonomi menjadi nilai tambah yang diharapkan.
“Ini bukan sekadar acara rohani, tetapi kami ingin ibadah ini berguna bagi masyarakat Yogyakarta, membantu keluarga menjalani hidup yang lebih baik serta membangun kerukunan dalam keluarga dan bermasyarakat,” kata Iwan Budhiharto, Sabtu (13/12/2025).
Pertemuan regional ini merupakan agenda tahunan yang rutin diselenggarakan di berbagai kota besar, dan menjadi bagian dari rangkaian pertemuan global. “Kehadiran pertemuan ini di Indonesia menunjukkan posisi penting Indonesia dalam rangkaian pertemuan internasional tersebut,” tambah Iwan.
Logistik pertemuan juga diselenggarakan secara terbuka dan gratis, mencerminkan nilai inklusivitas. Rangkaian acara yang padat—meliputi ceramah, wawancara, tayangan video Alkitab, serta doa bersama—mengharuskan penyelenggara mempersiapkan fasilitas Grand Pacific Hall secara detail untuk menampung ribuan jemaah selama tiga hari berturut-turut.
Iwan Budhiharto juga menyoroti aspek tanggung jawab sosial dalam pertemuan tersebut. “Selama kegiatan ini kami juga berdoa, bukan hanya untuk kegiatan kami, tetapi juga untuk masyarakat dan pemerintah Indonesia agar dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik,” ujarnya.
Tema “Ibadah Murni” bertujuan memberikan pencerahan dan harapan. “Kami berharap setiap hadirin pulang dengan perasaan disegarkan, disemangati, dan mengetahui bagaimana ibadah yang sesungguhnya dapat membantu mereka mengatasi tantangan di dunia saat ini,” demikian kutipan dari penyelenggara terkait target acara ini.
Keberhasilan Yogyakarta sebagai tuan rumah pertemuan besar keagamaan seperti ini menunjukkan kapasitas kota tersebut dalam menampung acara skala internasional, sekaligus memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan.
