BERITANET.ID — Panggung industri kopi tanah air bersiap mencatatkan sejarah baru lewat perhelatan Jogja Coffee Week ke-6 yang akan digelar pada 4 hingga 6 September 2026 mendatang. Bertempat di Hall B dan Hall C Jogja Expo Center, pameran kopi terbesar di Indonesia ini siap naik kelas ke skala internasional. Mengusung tema Inclusive Vibes, perhelatan ini merayakan satu dekade gerakan kolektif kopi dengan merangkul seluruh ekosistem tanpa batas, mulai dari petani, barista, penyangrai, pengusaha, hingga para pencinta kopi.
Langkah ekspansi dengan menggunakan dua aula besar sekaligus ini sengaja diambil demi memfasilitasi 179 stan pameran. Stan-stan tersebut akan menampilkan berbagai produk unggulan seperti biji kopi premium, mesin pengolahan kopi mutakhir, hingga inovasi kedai kopi kekinian. Tidak hanya diramaikan oleh pelaku usaha lokal, ajang ini juga akan menjadi tempat berkumpulnya delegasi internasional dari kawasan Asia Tenggara hingga Jepang.
Ketua Organizing Committee Jogja Coffee Week 2026, Rahadi Saptata Abra, menjelaskan dalam konferensi pers di Loman Hotel Yogyakarta pada Jumat, 3 Juli 2026, bahwa keterlibatan global ini menjadi bukti nyata dari keterbukaan yang diusung tahun ini.
”Tahun ini kami menyelenggarakan dengan menggunakan dua hall di Jogja Expo Center, di hall B dan C, sehingga kita bisa menghadirkan 179 booth exhibitor. Yang sudah menyatakan komitmen dari ASEAN Coffee Federation, mereka akan mengirimkan lima exhibitor, ada lima booth nanti, kemudian ada salah satu penyelenggara pameran di Jepang yang akan mengirim perwakilannya sekitar 5 hingga 10 exhibitor. Tidak hanya dari dalam negeri, peserta mancanegara turut hadir, memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat kopi dunia,” ungkap Rahadi Saptata Abra.
Kehadiran para pelaku global ini dinilai sangat beralasan mengingat Daerah Istimewa Yogyakarta telah tumbuh menjadi pusat kopi paling dinamis di Indonesia. Berdasarkan data terbaru, wilayah ini memiliki ekosistem yang sangat padat dengan catatan lebih dari 7.093 entitas dan titik destinasi kopi, mulai dari perkebunan hulu hingga kedai kopi di hilir.
Selain menjadi ajang pameran dagang, Jogja Coffee Week ke-6 juga memanaskan atmosfer lewat kompetisi bergengsi JAWARA Coffee Competition 2026. Kompetisi ini mencakup Brewers Competition, Cup Tester Competition, Latte Art Competition, serta Mixology Competition yang terbagi atas Coffee Mixology dan Tea Mixology. Di samping itu, ada pula Fun Roasting Coffee Competition untuk para penyangrai. Di tingkat hulu, Green Bean Competition disiapkan dengan target 150 peserta dari petani Robusta, Arabica, hingga Liberica demi menjaga kualitas komoditas sejak awal proses.
Ferry Elhas, salah satu pelaksana acara dari Asosiasi Kopi Indonesia, menyebutkan bahwa antusiasme kompetisi tahun ini sangat luar biasa, di mana tiket untuk kategori Brewers dan Cup Tester bahkan sudah habis terjual oleh peserta dari Kalimantan hingga Jawa.
”Kurang lebih sama seperti tahun kemarin, namun tahun ini kami menambah sesi latihan kompetisi dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan,” kata Ferry Elhas.
Terobosan paling strategis dalam edisi keenam ini adalah hadirnya program Indonesia Coffee Business Summit hasil kolaborasi bersama Kadin Indonesia, Kadin Daerah Istimewa Yogyakarta, Asosiasi Kopi Indonesia, serta Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Forum bisnis nasional dan internasional yang dipimpin oleh Eureka Bastian ini dirancang untuk mempertemukan investor, pembeli, dan pelaku industri global lewat seminar, forum investasi, serta pertemuan bisnis.
Wakil Ketua Umum Kadin Daerah Istimewa Yogyakarta, Robby Kusumaharta, menekankan bahwa di tengah tantangan keterbatasan bahan baku dan perubahan perilaku konsumen pasca 2026, industri kopi harus bertransformasi menjadi powerhouse ekonomi daerah yang didukung oleh riset dan inovasi akademisi kampus agar mampu bersaing di pasar global.
”Jogja memiliki kekuatan besar sebagai pusat kopi nasional. Dengan dukungan akademisi, kampus, dan dunia usaha, kita bisa menjawab tantangan pasca 2026 melalui program unggulan yang mendorong ekonomi nasional sekaligus memperkuat ekosistem kopi. Kami ingin Jogja Coffee Week menjadi power house yang menggerakkan kopi Indonesia ke panggung global. Dengan dukungan pemerintah, asosiasi, dan mitra internasional, kita harus melakukan yang terbaik agar Jogja semakin kuat,” tegas Robby Kusumaharta.
Dukungan penuh juga disuarakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Imam Pratanadi. Ia mengapresiasi target besar acara ini yang membidik 300 peserta mancanegara serta 900 potensi kemitraan bisnis. Menurutnya, Yogyakarta sudah sangat siap menjadi Indonesian Coffee Showcase sekaligus destinasi wisata minat khusus berbasis kopi. Hal ini terbukti dari kesiapan para petani yang sudah mahir menyangrai, ketersediaan barista yang memadai, hingga hadirnya kedai kopi inklusif yang dikelola oleh penyandang tunanetra.
”Yang keenam ini luar biasa karena tidak hanya berupa pameran, tetapi juga menghadirkan Indonesia Coffee Business Summit. Target 300 peserta mancanegara dan 900 potensi bisnis adalah langkah besar yang patut diapresiasi. Karena mulai dari petani sampai pada hilirnya di coffee shop, itu sudah luar biasa. Bahkan, petani pun sudah bisa jadi roaster. Ya, roaster. Kemudian brewer-nya juga sudah tersedia di Yogyakarta dalam jumlah yang sangat memadai. Kami optimis Jogja akan menjadi destinasi wisata minat khusus, di mana wisatawan bisa bereksperimen langsung dengan kopi. Bahkan inklusivitas sudah terlihat dengan adanya kafe yang dikelola oleh teman-teman tunanetra. Ini adalah bukti bahwa kopi mampu merangkul semua kalangan,” tutur Imam Pratanadi.
Bagi masyarakat umum, kemeriahan pameran ini akan dilengkapi dengan ruang edukasi berupa empat kali sesi Coffeetalk Talkshow serta panggung hiburan Coffeetainment yang menampilkan musisi Panji Sakti. Melalui integrasi antara pameran, kompetisi, dan forum bisnis berskala global, Jogja Coffee Week ke-6 siap menegaskan posisi Yogyakarta sebagai jantung sekaligus motor penggerak industri kopi Indonesia di panggung internasional.
