BERITANET.ID : ‘We Don’t Lie Like A Referee’ merupakan peluapan kekecewaan, kemarahan, sekaligus
rasa syukur Jossie yang kini telah menginjak usia 19 tahun berkarya
Album ini terasa segar karena diproduseri oleh Momo Biru (ZIMA/Captain Jack Reunion) Membuka tahun 2026, Jossie memperkenalkan karya barunya berupa album berjumlah delapan lagu.
Album tersebut mereka beri tajuk ‘We
Don’t Lie Like A Referee’. Kabar tentang album baru itu sudah mereka
bocorkan pada Desember 2025 lalu. Saat itu mereka merilis single
berjudul ‘Taring Feat. Marselyanto’ sebagai lagu pengantar album.
Album ‘We Don’t Lie Like A Referee’ hadir sebagai senjata Jossie untuk
menyindir, sebab keseluruhan tema membawa pernyataan sinis
tentang kepercayaan yang rapuh. Di balik kesan santai, kalimat ini
menyinggung realitas bahwa kebenaran kerap dimanipulasi oleh
mereka yang seharusnya menjadi penengah.
“Album kami punya karya lagu yang mewakili keberanian untuk
berdiri di luar sistem. Jossie menolak kepura-puraan objektivitas, dan
memilih kejujuran mentah meski tak selalu nyaman, meski tak selalu
aman. Konteksnya paling mudah yakni dalam lingkup pertemanan,”
ujar Angga Rahafta mengawali obrolan.
Delapan lagu yang dibawa Jossie dalam album barunya ini diklaim
mereka sangat kuat, secara materi lirik dan aransemen lagu. Pertama
ada intro yang berjudul ‘A New Battle’, lalu ada ‘Ambil Alih Kendali’,
‘Sampah Sudut Kota’, ‘Taring Feat. Marselyanto’, ‘Mati Berkali-Kali’
‘Pengendara Gelombang’, ‘Sometimes’, dan ditutup dengan ‘Hujan Di Hari Minggu (Remastered)’.
Secara keseluruhan, delapan lagu dalam album ‘We Don’t Lie Like A
Referee’ mengangkat tema keresahan yang kerap bergejolak di
lingkungan sosial.
Ada rasa kesal, marah, kekecewaan yang didapat terus menerus, hingga pada titik tertentu seseorang harus mengambil keputusan yang tak mudah karena berpotensi bisa merasakan kekecewaan lagi.
“Kami berusaha meramu lirik-lirik yang lugas, jujur dan apa adanya.
Tujuannya agar semua pesan bisa relate dan dapat dengan mudah
sampai telinga pendengar,” kata Angga Rahafta.
“Untuk single kedua atau lagu andalan kami dari album ini adalah
‘Sometimes’. Alasannya, kami anggap easy listening. Liriknya pun
tentang proses berdamai dengan diri sendiri setelah berkali-kali
terbentur oleh masa lalu,” ujar Erindra Mukti menambahkan.
Semakin Segar Secara Musikal, Semakin Matang Secara
Visual
Bagi grup band yang sudah berkarya selama belasan tahun, menggodok karya secara matang sudah jadi prioritas utama bagi
Jossie.
Lewat album ‘We Don’t Lie Like A Referee’, Jossie mengaku
sangat serius menggarap aransemen musik yang lebih segar, berbeda
seperti gaya mereka sebelumnya. Bahkan untuk konsep visual juga
sangat dipikirkan oleh Jossie.
Dalam album ‘We Don’t Lie Like A Referee’, Jossie memainkan
psikologi warna dan juga visual branding dengan mengusung ungu
sebagai warna utama.
Warna ungu dipilih karena menggambarkan perasaan yang menjembatani dua kutub emosi yang berlawanan, antara ketenangan dan gejolak misteri sekaligus emosi.
Bukan hanya bermain visual saja. Pemilihan bunga daisy marguerite pada artwork dan foto mereka mewakili misteri sekaligus kebijaksanaan.
“Semua konsep visual itu bisa mewakilkan perasaan yang dibawa
Jossie dalam album ini. Bunga ungu dalam foto yang misterius
dengan amarah, namun ada ketenangan dan gejolak yang dibalut
dengan indah,” kata Erindra Mukti.
Konsep visual yang dibawa Jossie pada album ‘We Don’t Lie Like A
Referee’ ini juga melibatkan tiga insan kreatif dari Yogyakarta, yakni
Jeffry Alfian Dika sebagai konseptor sekaligus fotografer, Deni Adit
sebagai penata busana, dan Jandon Banyu sebagai pembuat artwork
untuk album.
Momo Biru (Zima/captain Jack Reunion) Sebagai Produser
Musik
Usai merilis album Diorama (2016) dan beberapa single rentang
2023-2024 lalu, Jossie merasa harus upgrade. Kejenuhan mereka
terhadap pop punk yang ‘gitu-gitu aja’ memantik mereka untuk
meracik sesuatu yang lebih fresh.
Atas dasar itu, proses pembuatan album ‘We Don’t Lie Like A Referee’
sejak awal diramu secara khusus Momo Biru (Zima/Captain Jack
Reunion).
Semua instrumen direkam di studio milik Momo Biru, Meru
Records. Selain Momo Biru, album tersebut juga di bawah kendali
Tapansari, kolega Jossie yang menjadi produser eksekutif album.
“Kami menunjuk Momo sebagai produser musik karena Jossie ingin
warna baru dan di sana kami ternyata memang banyak terbantu dari
segi pemilihan lirik, aransemen, sekaligus sound design Jossie yang
baru,” kata Erindra Mukti.
Album ‘We Don’t Lie Like A Referee’ dirilis pada Jumat 6 Februari 2026.
Delapan lagu terbaru dari Jossie bisa dinikmati di seluruh gerai-gerai
musik digital.
Video lirik lagu ‘Sometimes’ juga akan mengudara di kanal YouTube Jossie Music. Dalam perilisan album ‘We Don’t Lie Like A Referee’, Jossie akan melakukan media gathering dan syukuran kecil-kecilan bersama keluarga sekaligus sahabat-sahabat mereka.
Tak cuma itu, Jossie juga sudah merancang aktivasi promo offline untuk melakukan tur promo album ke beberapa kota terpilih.
Sekadar diketahui, Jossie merupakan grup band bergenre melodic
punk/pop punk yang berasal dari Yogyakarta.
Dibentuk pada 2006,
sempat bongkar personel, kini Jossie hanya beranggotakan dua orang
saja, yakni Angga Rahafta (vokal, gitar) dan Erindra Mukti (drum).
19 Tahun memeriahkan skena musik Jogja dan sekitarnya, Jossie
sudah mengeluarkan satu album bertajuk ‘Diorama’ pada tahun 2016,
lalu ‘That’s Wrong!!’ (Single, 2023), ‘Tertawa Dan Bertahan’ (Single,
2024), dan ‘Hujan Di Hari Minggu’ (Single, 2024). Pada Desember 2025,
Jossie kembali mengeluarkan single berjudul ‘Taring Feat.
Marselyanto’.
Lagu tersebut secara tidak langsung menunjukkan Jossie sudah semakin matang dalam pengemasan karya.
