Sejarah Adalah Dialog Antara Masa Kini dan Masa Lalu”: Hanung Bramantyo Gunakan Perspektif Interpretasi untuk Film Sejarah

BERITANET.ID : Sutradara Hanung Bramantyo mengajak masyarakat untuk melakukan dialog mengenai sejarah Indonesia yang belum terungkap tuntas melalui film-filmnya, termasuk karya terbarunya, The Hole atau Bolong, dalam sebuah temu wicara di Universitas Amikom, Yogyakarta, Senin. Dalam dialog “Sejarah vs Sinema: Perang Fiksi dan Fakta,” Hanung menjelaskan dasar filosofis dan teoretis yang ia gunakan dalam menggarap film berbasis sejarah.
Hanung menegaskan bahwa pemaparan kali ini terkait sejarah dan sinema, sehingga ia tidak hanya bercerita tentang filmnya saja, tetapi ia mencoba mengajak teman-teman semua memahami dasar kenapa dirinya membuat film ini, yang bertujuan untuk membuka diskusi tentang masa lalu. Ia mengkritik pandangan sejarah yang bersifat tunggal, dan ia lebih pas dengan pandangan Edward Hallett Carr yang mengatakan bahwa sejarah adalah dialog antara masa kini dan masa lalu, karena sejarawan selalu menafsirkan fakta melalui perspektif zamannya.
Lebih lanjut, Hanung juga mengutip pemikiran teoretikus sastra Roland Barthes yang mengatakan bahwa fiksi adalah sistem tanda yang menyusun dunia teks, di mana yang penting bukan apakah cerita itu benar, tetapi bagaimana teks mengorganisir makna dan mempengaruhi pembaca, yang ia jadikan dasar pembenaran bahwa sinema tidak harus mereplikasi fakta mentah.
Mengenai genre, Hanung menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tidak suka disebut film horor karena ia bukan pembuat film horor, seraya menambahkan bahwa esensi dari horor adalah suasana teror di dalamnya, yang mana teror itu mengancam kematian, bukan sekadar jump scare yang disederhanakan oleh industri film Indonesia.