Jejak Estetika di Singgasana Pakualaman: Harmoni Batik dan Pemberdayaan Perempuan Global

BERITANET.ID : Lonceng perunggu dan derap langkah kuda dari 30 andong yang melintasi kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta menjadi pembuka narasi budaya yang memukau bagi delegasi Welcome Clubs International (WCI).

Pada Kamis sore, 30 April 2026, Kompleks Pura Pakualaman membuka gerbangnya lebar-lebar bagi sekitar 100 tokoh perempuan dunia untuk menyelami sebuah realitas di mana tradisi tidak hanya dipajang di museum, melainkan dihidupkan sebagai napas pemberdayaan.

Kunjungan ini merupakan babak penutup yang emosional sekaligus esensial dari rangkaian WCI Biennial Conference. Setelah bergulat dengan isu-isu global di metropolitan Jakarta, para delegasi diajak kembali ke “akar” melalui suasana syahdu istana.

Di sini, narasi utama yang diangkat adalah bagaimana warisan budaya (cultural heritage) menjadi fondasi bagi perempuan untuk melangkah maju tanpa kehilangan identitas. Dr. Nina Handoko menekankan bahwa diplomasi budaya ini adalah ruang untuk membuktikan bahwa pendidikan dan pelestarian seni mampu mengangkat derajat komunitas secara ekonomi dan sosial.
Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAA) Paku Alam, sang permaisuri, tampil sebagai sosok sentral yang merepresentasikan visi tersebut. Melalui batik, Gusti Putri menunjukkan bahwa inovasi adalah kunci eksistensi.

Beliau mengembangkan motif-motif kuno Pakualaman menjadi karya kontemporer yang tetap bernyawa tradisi. Bagi para delegasi, melihat proses kreatif dan dedikasi Gusti Putri adalah pelajaran nyata tentang bagaimana peran perempuan sebagai penjaga pengetahuan mampu menghadapi tantangan dunia yang terus berubah.

Decak kagum tak henti terdengar saat para tamu menyusuri kemegahan arsitektur Jawa-Eropa di Bangsal Sewatama dan Gedhong Parakarsa. Estetika istana yang terjaga rapi menjadi bukti nyata komitmen Pakualaman dalam menjaga marwah sejarah di tengah hiruk-pikuk zaman. Setiap pilar dan ukiran yang mereka amati merupakan simbol keteguhan budaya yang menjadi tema sentral dalam gerakan women empowerment yang diusung oleh WCI dan WIC Jakarta.

Malam itu, kehangatan mencapai puncaknya di Dalem Kepatihan saat royal dinner digelar.

Di antara sajian kuliner khas kerajaan, deretan batik tulis karya Gusti Putri dipamerkan sebagai bintang utama. Pertemuan ini tidak lagi terasa seperti kunjungan formal antarklub internasional, melainkan sebuah reuni keluarga besar dunia yang disatukan oleh satu visi: menghormati masa lalu untuk membangun masa depan perempuan yang lebih cerah.

Pura Pakualaman sore itu bukan sekadar destinasi, melainkan cermin bagi para delegasi untuk membawa pulang semangat pelestarian ke negara masing-masing.