Dari Jogja untuk Dunia: Jasmine Ashadiya Harumkan Nama Indonesia di Kejuaraan Karate Malaysia

BERITANET.ID : Nama Jasmine Ashadiya Gunarto kini menjadi perbincangan hangat di dunia olahraga bela diri setelah sukses mengukir prestasi gemilang di kancah internasional.

Siswi kelas 5 SD Muhammadiyah Sapen 1 Yogyakarta tersebut berhasil menyabet gelar Juara 2 pada nomor kumite dan Juara 3 pada nomor kata dalam turnamen bergengsi Silent Knight International Karate 2026 yang digelar di Malaysia.

Prestasi ini diraih Jasmine setelah melewati persaingan ketat melawan sekitar 500 atlet dari berbagai negara, mulai dari Malaysia, Singapura, Thailand, Sri Lanka, hingga India.

Menghadapi sekitar 30 peserta di kelasnya, atlet cilik kelahiran 17 September 2014 ini menunjukkan mental baja sejak babak penyisihan hingga menembus partai final kumite yang berakhir dramatis dengan skor imbang.

Jasmine mengaku bahwa panggung internasional memberikan pengalaman yang sangat berkesan sekaligus menegangkan. “Sempet deg-degan banget pas mau tanding, terutama untuk materinya,” ungkap Jasmine saat menceritakan kembali momen di arena pertandingan. Namun, ia berhasil menepis rasa cemas tersebut berkat kesungguhan dalam berlatih.

“Saya selalu percaya bahwa siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil mencapai impiannya,” tambahnya dengan penuh keyakinan.
Keberhasilan Jasmine di Negeri Jiran merupakan hasil dari pola latihan spartan yang ia jalani di Sandfish Karate Academy. Sebanyak 11 kali dalam sepekan, Jasmine harus bangun pukul 04.00 pagi untuk berlatih hingga pukul 07.00 sebelum berangkat sekolah, dan melanjutkannya lagi pada sore hari.

Tantangan fisik seperti menjaga berat badan di angka 38 kilogram dan rutin melakukan ice bath setiap bulan ia jalani demi performa maksimal.

“Tantangannya berat, terutama untuk persiapannya, jaga pola makan, jaga fisik, tapi alhamdulillah aku bisa lewati,” jelas atlet yang memiliki motto hidup man jadda wajada tersebut.

Isfan Alfredatama, sang pelatih, memandang pencapaian ini sebagai langkah awal menuju kematangan mental Jasmine sebagai atlet profesional. “Fokus utama kami saat ini adalah bagaimana Jasmine bisa menjalani proses dengan baik serta membangun kemampuan secara bertahap agar mentalnya semakin matang,” tutur Isfan.

Menurutnya, konsistensi adalah kunci utama mengapa anak didiknya tersebut mampu bersaing di level dunia. “Keberhasilan di level internasional ini adalah bukti nyata dari konsistensi latihan yang ia jalani selama ini,” tegasnya lagi.

Di balik ketangguhannya di lapangan, Jasmine mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya, Arjunadi dan Brigita Kingkin Pitaningrum. Sang ayah, Arjunadi, menekankan bahwa pendidikan karakter jauh lebih berharga daripada kepingan medali.

“Bagi kami, medali bukan tujuan utama karena yang terpenting adalah proses, disiplin, dan bagaimana karakter Jasmine terbentuk melalui olahraga ini,” kata Arjunadi.

Ia pun selalu terkesan dengan etos kerja putrinya yang sangat disiplin sejak dini hari. “Setiap hari dia memulai aktivitas sejak dini hari tanpa mengeluh, karena ia paham bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha,” jelas sang ayah bangga.

Sebelum berjaya di Malaysia, Jasmine telah mengoleksi sederet prestasi di sepanjang tahun 2025, termasuk Juara 1 kumite di YOT International, Juara 1 kata dan kumite di Kejurda INKAI DIY, serta berbagai gelar juara lainnya di tingkat kota maupun internasional.

Meskipun cabang olahraga karate saat ini memiliki keterbatasan jenjang kompetisi nasional, hal itu tidak memadamkan mimpi Jasmine yang bercita-cita menjadi dokter sekaligus membela tim nasional.

“Saya ingin terus berprestasi hingga nanti bisa memperkuat tim nasional karate Indonesia di kancah yang lebih tinggi,” tutup pengagum Tiara Sandi tersebut dengan optimis.