BERITANET.ID — Memantapkan langkah menuju jaminan layanan kesehatan yang merata, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia serta Panitia Pelaksana KONAS dan PIN PPHI-PGI-PEGI Yogyakarta 2026 memusatkan peringatan World Hepatitis Day atau WHD 2026 di Yogyakarta pada tanggal 25 sampai 26 Juli 2026.
Perhelatan ini dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan jaminan terapi antivirus serta memperluas akses layanan medis bagi seluruh masyarakat demi menyukseskan target eliminasi hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030. Kebijakan ini diambil lantaran bahaya hepatitis B dan C yang kerap mengintai tanpa gejala klinis jelas pada tahap awal, sehingga membuat penderita sering terlambat mendapat penanganan dan baru terdiagnosis saat organ hatinya mengeras akibat sirosis atau memicu kanker hati.
Dihelat di The Alana Hotel and Convention Center Yogyakarta sebagai bagian terpadu dari Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah Nasional PPHI–PGI–PEGI 2026, peringatan WHD 2026 membawa tema global “Hepatitis: Let’s Break It Down!” dan tema nasional “Perluas Akses, Perkuat Kolaborasi, Wujudkan Eliminasi”.
Acara diawali Simposium Kesehatan Masyarakat bertema “Dua Tantangan Besar Penyakit Hati: Dari Hepatitis Virus hingga MAFLD” pada pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Agenda ilmiah ini dipandu Moderator Dr. dr. Andri Sanityoso, SpPD, K-GEH, FINASIM, dengan menghadirkan penceramah utama yaitu Dr. dr. Juferdy Kurniawan, SpPD, K-GEH, FACG, FINASIM dari PPHI, Prof. dr. David Handojo Muljono, PhD, SpPD, FAASLD, FINASIM selaku Ketua Komite Ahli Hepatitis Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, MKM selaku Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, serta dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid selaku Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI.
Pada momen yang sama, PPHI dan Kemenkes turut merilis dua buku panduan medis terbaru, yaitu Buku Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis B di Indonesia 2026 serta Buku Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis C pada Penyakit Ginjal Kronik di Indonesia 2026 yang mengulas pembaruan diagnosis, terapi antivirus, hingga tata laksana khusus pasien dialisis dan transplantasi ginjal.
Ketua Umum PPHI, Dr. dr. Andri Sanityoso, SpPD, K-GEH, FINASIM, menegaskan pentingnya kemitraan strategis dalam menunjang keberhasilan program nasional tersebut.
”Indonesia telah berkomitmen mencapai target eliminasi hepatitis pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan peningkatan cakupan skrining, vaksinasi, diagnosis dini, serta akses pengobatan yang lebih luas bagi masyarakat,” tegas Dr. dr. Andri Sanityoso, SpPD, K-GEH, FINASIM.
PPHI mengusung tiga pesan pokok pada peringatan WHD 2026, yaitu urgensi percepatan program pencegahan, skrining, dan pengobatan secara nasional demi target eliminasi 2030; imbauan tes kesehatan secara berkala mengingat sifat hepatitis B dan C yang dapat menginfeksi tanpa gejala bertahun-tahun; serta penegasan bahwa pengobatan dini efektif mencegah perburukan menjadi sirosis, gagal hati, maupun kanker hati. PPHI bersama Kemenkes RI dan Panitia Pelaksana KONAS dan PIN PPHI-PGI-PEGI Yogyakarta 2026 pun mengajak publik untuk aktif melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, melengkapi imunisasi hepatitis B, dan berkonsultasi kepada dokter jika memiliki faktor risiko.
Dari sisi regulasi, Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, MKM, memaparkan skema perlindungan medis secara terintegrasi bagi pasien terinfeksi di seluruh fasilitas kesehatan.
”Peringatan Hari Hepatitis Sedunia menjadi momentum krusial bagi pemerintah Indonesia untuk memperkuat komitmen dalam mencapai eliminasi hepatitis pada tahun 2030,” ungkap dr. Prima Yosephine, MKM.
Ia menjelaskan bahwa posisi Indonesia saat ini berada di peringkat keempat Asia Tenggara terkait prevalensi hepatitis B dengan kisaran angka 8,4 per 100.000 penduduk, dengan ancaman sirosis dan kanker hati yang mendominasi kelompok usia dewasa di atas 40 tahun. Karena sifat infeksi B dan C berbeda dari hepatitis A yang memicu gejala klinis tajam seperti mata kuning, Kemenkes menguatkan jaringan Puskesmas lewat skrining ibu hamil guna memutus penularan ke bayi, disertai pemberian imunisasi serta Hepatitis B Immune Globulin atau HBIG secara langsung. Di samping itu, program Cek Kesehatan Gratis atau CKG diintegrasikan setiap tahun, di mana dari puluhan juta warga yang telah memeriksakan diri, terdeteksi puluhan ribu orang berisiko tinggi, yang mana tes lanjutan viral load mengonfirmasi sekitar 700-an kasus ibu hamil terinfeksi hepatitis B dan 300-an kasus hepatitis C. Guna menjamin kepastian sembuh, pemerintah memberikan garansi penyediaan terapi antivirus nasional yang masuk program resmi mulai 2025, yang berjalan seiring edukasi Pola Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS serta dorongan vaksinasi mandiri bagi usia dewasa.
Menutup keterangannya, perwakilan panitia acara, Putut Bayu Purnama, Sp.PD-KGEH, menguraikan peran strategis Kongres Nasional tiga tahunan yang digelar secara bergiliran di kota-kota pusat pendidikan kedokteran untuk mengasah keahlian para dokter spesialis penyakit dalam, konsultan, hingga dokter umum. Pertemuan ilmiah ini difokuskan untuk mendongkrak indeks penanganan pasien secara berkelanjutan dari fase penapisan hingga tata laksana tingkat lanjut. Langkah pemutakhiran ini dipandang sangat mendesak seiring berkembangnya teknologi medis hepatologi yang mengubah metode pendeteksian dan terapi menjadi lebih canggih dan responsif. Tanpa adanya forum ilmiah berkala untuk melakukan pembagian pengalaman klinis, transfer pengetahuan medis tepercaya antardokter di berbagai daerah dikhawatirkan terkendala, padahal dinamika kasus di lapangan menuntut tindakan yang cepat, terintegrasi, dan berbasis bukti ilmiah paling mutakhir demi meningkatkan taraf kesembuhan pasien di seluruh tanah air.
