Dari Sleman ke Singapura: Strategi Dear June Maksimalkan Fitur Shopee hingga Tembus Pasar Dunia

BERITANET.ID – Pasar internasional kini bukan lagi hal yang mustahil bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) daerah.

Brand fashion asal Sleman, Yogyakarta, Dear June Official, membuktikan bahwa pemanfaatan ekosistem digital yang tepat di platform Shopee mampu membawa produk lokal berbahan dasar motif stripe dan polkadot bersaing hingga ke Singapura dan Malaysia.

​Didirikan sejak tahun 2016 oleh Yunita Fauziah Putri (28) saat baru menginjak bangku kuliah, usaha ini awalnya bernama Shop at Lokal sebelum akhirnya melakukan rebranding menjadi Dirjun Official atau Dear June Official pada tahun 2021.

Pergantian nama ini didasari keinginan Yunita untuk mengeksplorasi variasi desain pakaian atasan dan bawahan wanita di luar potongan basic, dengan menyasar target pasar usia 18 hingga 30 tahun.

Produk-produk yang diproduksi otodidak ini dipasarkan dengan rentang harga Rp100.000 hingga kisaran Rp300.000.

​Langkah krusial diambil Yunita pada tahun 2018 dengan mulai berjualan di Shopee, setelah sebelumnya hanya mengandalkan promosi via Instagram dan WhatsApp menggunakan jasa pemengaruh (influencer) berskala nano hingga mega.

Penjualan lewat marketplace terbukti menjadi penyelamat arus kas (cash flow) perusahaan, terutama saat pandemi Covid-19, di mana Dear June melakukan pivot strategi dengan menjual puluhan ribu potong masker kain.

​Yunita menegaskan bahwa kunci suksesnya di pasar digital terletak pada keaktifan mempergunakan seluruh instrumen promosi yang disediakan oleh platform, bukan sekadar memajang produk di katalog digital.

​”Jadi kalau di Shopee itu sendiri enggak cuman asal upload katalog aja terus kita pasrah gitu ya tapi kita juga manfaatin semua fitur, hampir semua fitur sih yang ada di Shopee kayak gitu. Mulai dari Shopee Video, Shopee Live, Shopee Ads, kayak gitu kita manfaatin semuanya, seperti itu,” ujar Yunita.

​Guna mengoptimalkan fitur Shopee Live, Dear June menggaet jaringan afiliasi (affiliate) yang tidak hanya diberikan sampel gratis tetapi juga diperdayakan untuk melakukan siaran langsung. Strategi agresif ini membuahkan hasil manis dengan catatan pengiriman puluhan hingga ratusan resi setiap hari ke berbagai wilayah di Indonesia, bahkan hingga ke Papua.

​Keberhasilan di pasar domestik tersebut berlanjut ke ranah global melalui Program Ekspor Shopee yang mulai diseriusi tahun ini. Dari beberapa negara tujuan di Asia Tenggara, produk Dear June mendapatkan respons paling tinggi dari konsumen luar negeri.

​”Kita itu kemarin paling banyak itu marketnya ternyata ada di Singapura. Iya. Luar negeri Singapura sama Malaysia. Ternyata produk-produk kita itu paling match sama market Singapura kayak gitu,” ungkap Yunita mengenai jangkauan pasar ekspornya.

​Selain jangkauan pasar yang luas,
transparansi biaya dan keamanan sistem menjadi alasan utama Dear June memilih untuk fokus secara eksklusif di Shopee dan tidak mendalami platform lain seperti kompetitor toko hitam. Bagi Yunita, sistem di Shopee memberikan proteksi yang lebih baik serta kemudahan dalam pelacakan keuangan toko.

​”Dari segi misal kayak retur, retur itu kan di marketplace lain itu sangat sulit untuk kita bisa tracing, terus kita bisa ajukan banding, dan sebagainya. Tapi kalau di Shopee ini dari sisi apa ya? Sisi retur itu sangat minim sekali sih dibandingkan yang lainnya, sehingga kita saat ini cuman fokus di Shopee aja,” kata Yunita.

​Ia juga menambahkan bahwa kenaikan biaya administrasi sejauh ini masih aman dan bisa diimbangi dengan strategi promosi yang matang, karena platform mampu memberikan limpahan traffic pembeli yang sebanding. “Lebih mudah gimana saya bisa tracing biaya admin apa aja yang dikenakan kayak gitu, dibandingkan dengan marketplace yang lainnya,” tambahnya.

​Efektivitas penjualan di Shopee juga sangat terdongkrak oleh momentum promosi berkala seperti program Payday harian maupun ajang Double Date (tanggal kembar). Menariknya, pasca pembenahan manajemen stok, Dear June mencatatkan perolehan omzet harian dari kampanye belanja digital ini yang berhasil melampaui puncak penjualan di momen Lebaran, hingga tim internalnya sempat kewalahan menangani pengemasan barang.

​Skala bisnis yang terus membesar lewat ekosistem Shopee ini secara langsung berdampak pada penyerapan tenaga kerja di Sleman. Dari yang awalnya hanya memanfaatkan satu penjahit rumahan, kini Dear June telah memiliki 5 penjahit in-house di rumah produksi yang baru dibangun satu setengah tahun lalu, serta 5 penjahit rumahan mandiri yang bertugas mengambil potongan kain.

​Hadirnya usaha konveksi ini membawa angin segar bagi warga sekitar seperti Efi Nia Astuti (38), seorang ibu rumah tangga yang bekerja di bagian finishing manual sejak sebelum bulan puasa lalu. Nia bertugas memasang kancing baju yang tidak bisa diselesaikan mesin dengan sistem kerja yang fleksibel setelah ia menjemput anak sekolah.

​”Bisa bantuin keluarga sih, Mas. Ini jelas. Ya, yang jelas tuh nek saya kan cuman buat jajan anak-anak, gitu. Heeh, buat tambahan ya,” kata Nia.
​Hal senada disampaikan oleh Johan Siti Nur Aini atau Nur, mantan pemilik modiste rumahan yang sepi orderan akibat pandemi dan memilih bergabung sebagai penjahit serta pembuat sampel di Dear June sejak April 2025.

Alhamdulillah kerja di sini juga enak, suasananya juga bagus ya, kondisinya  enak, gitu. Nyaman. Alhamdulillah penghasilan lumayan, dan sangat-sangat lumayan,” kata Nur mengenai kenyamanan kerja dan penghasilan yang didapatkannya.

​Dengan kapasitas produksi yang kini menyentuh angka ratusan potong per hari, Yunita berharap Dear June Official dapat terus bertumbuh lebih tinggi di masa depan sekaligus memperluas kontribusi sosialnya bagi lingkungan sekitar melalui pemberdayaan warga lokal dalam rantai produksinya.