BERITANET.ID : DPRD Kota Yogyakarta meminta Pemerintah Kota Yogyakarta tidak kehilangan momentum dalam memanfaatkan pergerakan nilai tukar rupiah yang tengah melemah terhadap mata uang global.
Sektor pariwisata daerah dinilai harus menjadi garda terdepan dalam menangkap peluang ekonomi baru ini, mengingat daya tawar Yogyakarta sebagai destinasi budaya akan semakin kompetitif di pasar internasional. Rendahnya nilai tukar rupiah secara otomatis membuat biaya perjalanan dan akomodasi di dalam negeri menjadi jauh lebih murah bagi para pelancong dari luar negeri.
Kondisi moneter saat ini disinyalir menjadi stimulus kuat yang dapat mendorong para wisatawan mancanegara untuk mengalokasikan bujet liburan mereka secara lebih fleksibel di Yogyakarta. Dengan nilai konversi mata uang asing yang lebih tinggi, para turis memiliki keleluasaan finansial untuk menikmati fasilitas premium serta meningkatkan volume belanja produk ekonomi kreatif lokal. Sinergi kebijakan yang taktis sangat dibutuhkan agar limpahan devisa ini dapat langsung mengalir dan dirasakan oleh para pelaku usaha di akar rumput.
Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Muhammad Sofyan, menggarisbawahi bahwa fluktuasi nilai tukar ini sejatinya menyimpan potensi keuntungan yang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah jika dikelola dengan strategi yang tepat. “Dampak pelemahan rupiah ini bisa dilihat dari kacamata positif sebagai peluang ekonomi bagi Yogyakarta,” kata Muhammad Sofyan, Senin (15/6).
Menurut Sofyan, penguatan nilai tukar mata uang asing seperti Dolar Amerika Serikat akan menjadi magnet tersendiri yang memicu lonjakan arus kunjungan wisatawan internasional ke pusat-pusat wisata utama di Indonesia. “Wisatawan asing itu berpeluang berbondong-bondong wisata ke Indonesia. Jadi dampaknya bisa baik, ini positifnya,” kata Sofyan.
Melihat potensi tersebut, Komisi B DPRD Kota Yogyakarta mendesak jajaran eksekutif untuk segera menyiapkan jaring peluang yang matang. Pihak legislatif mengingatkan agar instansi terkait tidak bersikap pasif, melainkan harus bergerak agresif dalam meluncurkan program promosi yang mampu meyakinkan pasar global bahwa Yogyakarta adalah destinasi terbaik saat ini.
“Kalau kita tidak bisa memanfaatkan menjadi peluang kita tidak dapat apa-apa. Artinya dengan melemahnya nilai rupiah itu dari kacamata kita banyak wisatawan akan membanjiri Indonesia terutama kota-kota wisata. Lalu apa program yang bisa dijual? Sudah dipromosikan belum saat ini?” cetus Sofyan.
Lebih lanjut, Sofyan menjelaskan bahwa target intervensi kebijakan pariwisata Pemkot Yogyakarta saat ini harus difokuskan pada upaya memperpanjang durasi liburan para turis asing di Kota Gudeg. Peningkatan masa tinggal ini menjadi kunci utama untuk memaksimalkan perputaran uang di sektor perhotelan, kuliner, hingga jasa transportasi lokal. “Pemkot Yogya perlu mengkondisikan dan mendorong wisatawan asing untuk mengerek length of stay, tinggal lebih lama dan lebih panjang,” kata dia.
Sebagai langkah konkret di lapangan, Sofyan menyarankan agar ratusan agenda seni, budaya, dan pariwisata yang telah terdaftar dalam kalender tahunan daerah dapat dioptimalkan sebagai instrumen pengikat bagi wisatawan asing. “Kami mendorong Dinas Pariwisata Kota Yogya yang sudah punya 155 kegiatan di kalender festival itu, supaya ada langkah-langkah taktis menyedot kunjungan wisatawan manca, bagaimana menyiapkan menjadi kota festival, menjadi peluang buat wisata kita,” tutur Sofyan.
Di balik optimisme pasar internasional tersebut, Sofyan tetap memberikan catatan mengenai tantangan berat yang justru dihadapi oleh sektor wisata domestik. Pelemahan rupiah diakuinya memicu efek inflasi yang mengerek naik biaya operasional hotel serta harga tiket transportasi, sehingga menekan daya beli masyarakat lokal secara umum. Tekanan bujet ini diprediksi akan mengubah pola liburan wisatawan domestik yang kini cenderung menghindari perjalanan jarak jauh dan lebih memilih tren staycation serta beralih ke destinasi lokal terdekat demi menghemat pengeluaran.
