BERITANET.ID – Sebanyak seratus delegasi Welcome Clubs International (WCI) Biennial Conference yang berasal dari berbagai klub perempuan mancanegara menyambangi Kampung Batik Giriloyo, Imogiri, Yogyakarta, pada 29 Mei 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda budaya dalam perhelatan akbar yang mengusung tema “Bridging Traditions and Transformations: Empowering Women through Education and Cultural Heritage in a Changing World” dengan Women’s International Club (WIC) Jakarta sebagai tuan rumah. Melalui kunjungan tersebut, para peserta menyaksikan secara langsung bagaimana batik tidak sekadar menjadi identitas budaya serta karya seni, melainkan juga berfungsi sebagai sumber pengetahuan, ruang pemberdayaan komunitas, dan motor penggerak ekonomi.
Berperan sebagai penyelenggara utama, WIC Jakarta mendesain seluruh rangkaian acara ini bukan sekadar sebagai forum temu kangen antaranggota klub perempuan internasional, tetapi juga sebagai sarana pertukaran budaya dan diplomasi masyarakat.
Selepas mengikuti berbagai kegiatan di ibu kota, delegasi internasional bertolak ke Yogyakarta untuk menyelami sisi lain Indonesia yang sangat lekat dengan sejarah, tradisi, dan akar budayanya.
Dr. Nina Handoko, selaku Ketua WCI Biennial Conference, mengungkapkan bahwa perpindahan lokasi ini sengaja direncanakan untuk memberikan pengalaman kontras yang bermakna setelah para peserta merasakan hiruk-pikuk dinamika kota metropolitan.
“Setelah tiga hari berada di Jakarta, kami ingin mengajak para peserta melihat wajah Indonesia yang berbeda melalui Yogyakarta.
Kontras ini selaras dengan tema konferensi kami, Bridging Traditions and Transformations. Di Giriloyo, para delegasi dapat menyaksikan bagaimana batik terus bertransformasi: dari warisan budaya yang dijaga turun-temurun menjadi living heritage yang hidup di tengah masyarakat, sekaligus sumber penguatan ekonomi yang mampu mengangkat harkat komunitas, terutama perempuan,” jelas Nina.
Selama berada di Giriloyo, para peserta langsung mempraktikkan cara membatik bersama para perajin lokal. Pengalaman tersebut memperkenalkan mereka pada ketelitian, keterampilan, dan kesabaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan selembar kain batik. Seluruh delegasi juga diajak untuk memahami bahwa batik bukanlah sekadar produk akhir yang dapat dibeli di pusat perbelanjaan atau dipajang di museum, melainkan sebuah proses budaya yang terus diwariskan dan menjadi roda ketahanan ekonomi bagi komunitas.
Lebih lanjut, Nina memaparkan bahwa batik yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya takbenda terus dihidupkan dengan makna yang mendalam di Giriloyo.
“Di Giriloyo, para peserta menyaksikan batik sebagai sebuah proses: dari goresan canting, kesabaran para perajin, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Inilah batik sebagai living heritage – warisan yang terus hidup, memberi makna, sekaligus membuka jalan kemandirian bagi masyarakat,” tambahnya.
Kunjungan tersebut turut dimeriahkan oleh sesi diskusi panel bersama dua narasumber yang memiliki kepedulian mendalam terhadap pelestarian pusaka budaya, pemberdayaan perempuan, dan batik. Pembicara pertama yaitu Dr. Ir. Laretna Adhisakti, yang berprofesi sebagai arsitek, pengajar Universitas Gadjah Mada, sekaligus Ketua 1 PPBI Sekar Jagad. Ia memaparkan sejarah, filosofi, dan pengembangan batik di Yogyakarta serta menekankan pentingnya memandang batik sebagai ekosistem warisan budaya yang mencakup pengetahuan, nilai, keterampilan, dan identitas komunitas.
Laretna juga menyoroti ketangguhan para perempuan pembatik di Imogiri yang sukses bangkit dari dampak bencana gempa bumi pada tahun 2006 untuk memperkuat komunitas dan membangun kemandirian melalui batik.
Pembicara kedua, Bapak Afif Syakur, merupakan praktisi batik dan Ketua 2 PPBI Sekar Jagad. Ia menjelaskan peran penting batik dalam pendidikan budaya dan pemberdayaan masyarakat. Afif, yang merupakan generasi keempat dari keluarga perajin batik ternama di Pekalongan, terus melestarikan tradisi tersebut melalui dedikasi dalam pembuatan karya, inovasi desain, dan edukasi. Lewat kiprahnya di PPBI Sekar Jagad Yogyakarta, ia terus mendorong pelaksanaan berbagai program pengembangan kapasitas bagi kaum perempuan agar dapat semakin mandiri melalui penguatan ekonomi berbasis budaya, kreativitas, dan keterampilan.
Danie Prakosa, yang menjabat sebagai Ketua Program WCI Biennial Conference di Yogyakarta, menyampaikan rasa apresiasi dan syukurnya atas kehadiran para delegasi dari mancanegara tersebut.
“Kami sangat menghargai kehadiran para delegasi dari mancanegara yang telah meluangkan waktu untuk datang ke Giriloyo dan belajar langsung dari para perajin batik. Kehadiran ini menjadi bentuk penghormatan yang bermakna bagi masyarakat lokal, sekaligus membuka ruang dialog budaya antara komunitas internasional dan para pelaku budaya di Yogyakarta,” tutur Danie.
Sebagai penutup keseluruhan rangkaian kunjungan, Nina menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari pelaksanaan diplomasi budaya yang bermakna dan hangat.
“Melalui batik di Giriloyo, kami ingin menghadirkan soft diplomacy yang memperkenalkan Indonesia bukan hanya melalui keindahan budayanya, tetapi juga melalui nilai ketekunan, kebersamaan, dan pemberdayaan yang hidup di tengah masyarakat,” tutupnya.
Sebagai informasi, WCI Biennial Conference adalah forum pertemuan dua tahunan yang mempertemukan berbagai klub perempuan internasional dari banyak negara untuk merajut persahabatan, memperkuat kerja sama lintas budaya, serta saling bertukar gagasan mengenai isu krusial di bidang pembangunan komunitas, pemberdayaan perempuan, budaya, dan pendidikan. Sementara itu, Women’s International Club (WIC) Jakarta merupakan organisasi nonpolitik dan nirlaba yang telah berdiri sejak tahun 1950. Berlandaskan pada motto “Friendship Through Understanding,” WIC Jakarta senantiasa berkomitmen membangun saling pengertian serta kerja sama lintas budaya melalui beragam kegiatan sosial, pendidikan, dan kebudayaan.
