BERITANET.ID : Kalangan DPRD Kota Yogyakarta mendorong agar uji coba serta simulasi jaringan Early Warning System (EWS) di wilayah bantaran sungai dapat ditingkatkan intensitasnya. Langkah masif tersebut dipandang penting demi menjamin kesiapan seluruh peralatan peringatan dini sekaligus melatih kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi potensi luapan air sungai.
Dalam penanganan mitigasi banjir, pihak BPBD Kota Yogyakarta sejauh ini telah menyiagakan 35 titik EWS yang terpasang di sepanjang aliran Sungai Winongo, Code, dan Gajahwong. Selain puluhan titik tersebut, satu unit EWS ekstra turut difungsikan di daerah Ngentak untuk memantau fluktuasi debit air yang mengalir dari sisi hulu.
Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta, Bambang Seno Baskoro, menggarisbawahi bahwa pengujian sirine peringatan bencana tidak semestinya dijalankan sekadar formalitas atau agenda sesekali. Agenda simulasi dan sosialisasi dinilai perlu diubah menjadi program berkala yang dijalankan secara konsisten.
”Kegiatan evaluasi dan pengujian sistem peringatan dini ini sangat kami dukung. Ini harus dilakukan dalam bentuk rutinitas, supaya masyarakat benar-benar memahami geografi tempat tinggalnya,” tutur Bambang Seno Baskoro.
Pertimbangan utama dari dorongan ini tidak lepas dari kondisi pemukiman padat penduduk yang mengapit tiga sungai besar di Kota Yogyakarta. Tingginya kepadatan kawasan pemukiman di sepanjang aliran sungai tersebut menyimpan risiko bencana hidrometeorologi yang cukup tinggi sewaktu musim hujan tiba.
Ia menambahkan, keterbiasaan warga dalam mengikuti simulasi berkala akan meminimalisasi kepanikan saat kondisi darurat terjadi. Melalui latihan yang rutin, masyarakat bantaran sungai dipastikan dapat bergerak lebih sigap dan memahami langkah-langkah mitigasi mandiri secara tepat.
”Kami mendukung program dari BPBD Kota Yogyakarta agar kegiatan ini jadi rutinitas, minimal satu tahun tiga kali. Dengan begitu, masyarakat bantaran sungai bisa paham betul kapan harus waspada dan kapan harus bersiap-siap,” pungkasnya.
