Filosofi Sobekan Kertas dan Peneguhan Etika Pers dalam “Ijtihad Jurnalistik”

BERITANET.ID — Fenomena banjir informasi dan tingginya dorongan mengejar konten viral menjadi tantangan serius bagi objektivitas pers masa kini. Berangkat dari realitas tersebut, karya sastrawan dan jurnalis senior Mustofa W. Hasyim bertajuk Ijtihad Jurnalistik dibedah di Yogyakarta pada Selasa (11/8/2026) untuk menegaskan kembali integritas serta nilai dasar keilmuan dalam profesi pers. 


Buku tersebut tidak sekadar menyajikan pedoman teknis peliputan, tetapi merangkum perjalanan spiritual dan kebudayaan sang penulis sejak masa kecil hingga menjadi penggerak media. Mustofa menceritakan bahwa interaksi pertamanya dengan dunia cetak lahir dari metode mendidik tidak lazim yang diterapkan sang ayah sewaktu ia masih balita. 


“Suara kertas yang robek membuatku tertawa gembira, dan Ayah membiarkannya,” tutur Mustofa. 
Langkah sang ayah yang membiarkannya merobek koran dan majalah—meski sempat memicu teguran dari sang ibu—menjadi fondasi penting. Keterikatan awal terhadap lembaran kertas tersebut secara alami menumbuhkan rasa ingin tahu tinggi saat ia memasuki usia taman kanak-kanak, hingga akhirnya mendorongnya untuk mengeja barisan kata di balik gambar. 


Direktur Media dan Publikasi Suara Muhammadiyah, Isngadi Marwah Atmadja, yang turut hadir memberi ulasan, menilai sosok Mustofa W. Hasyim sebagai figur wartawan yang memegang teguh ideologi profesi di tengah perubahan arus industri media. 
“Pak Mustofa adalah jurnalis murni, tetapi berdedikasi dan berideologi. Khasnya di situ. Seorang jurnalis yang berideologi tidak hanya mengabarkan, tetapi menyeleksi kabar mana yang penting, perlu, dan kapan saatnya disebarkan,” ujar Isngadi. 


Isngadi menambahkan bahwa prinsip penyeleksian berita yang hati-hati sangat krusial untuk dipelajari oleh para wartawan muda di era digital. Ia mengimbau agar para praktisi pers tidak hanya mengejar popularitas instan atau sekadar menunggangi isu yang sedang hangat tanpa memperhitungkan dampak positifnya bagi publik. 


Melalui refleksi rekam jejaknya, Mustofa menekankan bahwa insan pers modern dituntut memiliki kepekaan sosial dan keberanian moral. Kerja pers pada hakikatnya adalah ikhtiar pemikiran yang harus mampu menghadirkan perspektif jernih guna mencerahkan serta membimbing kesadaran masyarakat.