Erupsi Merapi Diprediksi Dekat, Yogya Siapkan Dana Tanggap Darurat

BERITANET.ID : Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memprediksi siklus erupsi Gunung Merapi saat ini kian dekat pasca mencermati peningkatan aktivitas gunung itu beberapa waktu terakhir.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan tak tinggal diam dengan prediksi itu dan mengaku telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Khususnya mitigasi yang juga menyesuaikan masa pandemi Covid-19 ini.

Mitigasi ini demi menjamin keselamatan warga di sisi selatan gunung itu yakni wilayah DIY. Terutama warga yang berada di sekitar lereng gunung yang statusnya kini waspada atau level II itu.

“Informasi dari BPPTKG itu sudah kami terima, dan menjadi peringatan dini bagi semua untuk mulai berjaga atas kemungkinan erupsi itu,” ujar Sekretaris DIY Kadarmanta Baskara Aji di Yogykarta Ahad 1 November 2020.

Aji menjelaskan, ketika Merapi erupsi dan menimbulkan sejumlah dampak pada warga di satu wilayah, seperti di Kabupaten Sleman saja misalnya, biasanya untuk mengatasinya memang dilakukan gotong rotong oleh Pemerintah DIY, pemerintah pusat, juga pemerintah kabupaten/kota lain di DIY yang tak terdampak langsung.

“Namun saat ini kan hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia sedang terkena bencana Covid-19. Jadi sekarang kami persiapkan skenario bagaimana ketika Merapi erupsi, penanganannya pemerintah daerah bisa mandiri dulu,” ujarnya.

Penanganan bencana lebih mandiri yang dimaksud sebisa mungkin tak mengandalkan bantuan pusat yang selama ini memback-up saat dampak erupsi ternyata cukup dashyat seperti satu dasawarsa silam di tahun 2010.

Bantuan dari pusat dan kabupaten lain di DIY di masa pandemi ini cukup ditempatkan sebagai cadangan, bukan yang utama agar penanganan dampak Merapi tuntas lebih cepat.

Aji mengatakan saat ini Pemerintah Kabupaten Sleman dan Pemeritah DIY telah mengevaluasi dan memonitor kondisi jalur evakuasi, shelter penampungan warga hingga kesiapan logistik jika Merapi memang erupsi dalam waktu dekat.

Prinsip penanganan yang beradaptasi dengan kondisi Covid-19 diklaim sudah masuk dalam persiapan mitigasi itu. Khususnya untuk shelter penampungan warga. Misalnya berapa jumlah maksimal kapasitasnya agar tetap menerapkan prinsip physical distancing saat warga di evakuasi ke shelter itu.
Termasuk saat relawan atau petugas melakukan evakuasi yang menerapkan prinsip aman dari Covid-19.

“Kami tak mau juga ada klaster baru dalam penanganan bencana Merapi,” ujarnya.

Kesiapan untuk shelter dan jalur evakuasi itu, ujar Aji, juga dinilai masih cukup layak dan memadai untuk menghadapi jika skala erupsi Merapi lebih kecil dibanding peristiwa 2010 silam.

“Shelter dan jalur-jalur evakuasi yang sempat rusak, kondisinya kini sudah memadai. Rencana kontijensi bencana Merapi menjadi satu bagian yang kami kelola secara terpadu bersamaan penanganan bencana Covid-19,” ujarnya.

Satu contohnya, ujar Aji, untuk alokasi dana tak terduga penanganan bencana Merapi melalui anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kabupaten Sleman dan Provinsi DIY. Yany dinilai Aji jumlah anggarannya masih sangat mencukupi untuk penanganan jika Merapi memang erupsinya tahun ini bersamaaan Covid-19 yang belum rampung.

“Alokasi dana tak terduga di APBD Sleman maupun DIY tahun 2021 kami alokasikan cukup tinggi. Sedangkan sisa dana tak terduga di APBD 2020 juga masih sangat mencukupi,” ujar Aji.

Aji menyebut sisa untuk dana tak terduga untuk mengatasi berbagai dampak bencana termasuk di dalamnya erupsi Merapi tahun 2020 ini masih ada Rp.66 miliar dan untuk 2021 disiapkan alokasi dana tak terduga sebesar Rp 90 miliar lebih.

Aji menuturkan, erupsi Merapi selama ini memang telah menjadi siklus rutin alam mengingat gunung itu merupakan gunung api aktif. Namun karena dampak dari erupsi itu bisa menjadi bencana, maka tak bisa diremehkan aktivitasnya.

“Namanya bencana, banyak hal sering terjadi di luar dugaan kita,” ujarnya.

Dalam Peringatan Dasawarsa Merapi 2010 yang disiarkan secara daring, Senin, 26 Oktober 2020, BPPTKG melansir aktivitas vulkanik Merapi terus terjadi semenjak letusan 21 Juni 2020.

Data electronic distance measurement (EDM) Pos Pengamatan Babadan menunjukkan terjadi inflasi pada tubuh Gunung Merapi. Hal ini menunjukkan bahwa siklus erupsi Gunung Merapi berikutnya sudah semakin dekat.

“Saat ini Gunung Merapi masih mengalami kenaikan kegempaan, status aktivitas tetap waspada,” ujar Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida. (Red)