Jelang Normal Baru, Kasus Positif Covid-19 DIY Malah Melonjak

BERITANET.ID: Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat adanya lonjakan kasus positif baru pada Selasa 30 Juni 2020.

Sebanyak tujuh kasus positif Covid-19 dilaporkan Gugus Tugas DIY sehingga kasus terkonfirmasi positif di DIY totalnya menjadi 313 kasus.

Lonjakan kasus positif ini menjadi perhatian tersendiri karena mulai 1-31 Juli 2020, DIY akan memulai pembukaan sektor wisata yang sudah tiarap sejak akhir Maret lalu. Adapun masa tanggap darurat bencana Covid masih diperpanjang sampai akhir Juli.

“Dari tujuh kasus itu, ada satu keluarga (lima orang) berdomisili di Kabupaten Bantul, yang tertular dari anggota keluarganya yang memiliki riwayat perjalan dari Surabaya,” ujar Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan COVID-19, Berty Murtiningsih.

Dari lima orang yang tertular itu, empat diantaranya tercatat sebagai warga Bandung Jawa Barat dan satu orang asli asal Bantul. Kelimanya kini diisolasi di RSUD Panembahan Senopati Bantul.

Berty menjabarkan dengan akumulasi total 313 kasus positif di DIY itu, sebanyak 263 kasus sudah sembuh dan 8 meninggal dunia.

Pemda DIY sebelumnya menyatakan periode 1-31 Juli 2020 menjadi fase bersama ujicoba pembukaan sektor wisata dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Keputusan ini diambil salah satunya menekan terjadinya angka pengangguran baru akibat periode lama penutupan wisata akibat pandemi Covid-19.

“Di DIY, wisata menjadi nafas bagi perekonomian. Sektor ini mampu menjadi penopang hampir seluruh kegiatan perekonomian, khususnya UMKM,” ujar Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana, Senin 29 Juni 2020.

Tri menuturkan multiplayer effect sektor pariwisata lebih dari 104 kali. Artinya, setiap penambahan satu miliar pendapatan dari pariwisata, output total ekonomi DIY akan bertambah Rp 104 miliar.

Sehingga jika terjadi penurunan satu miliar di sektor pariwisata saja, maka output total ekonomi turun Rp 104 miliar.

Sedangkan dari sisi ketenagakerjaan, apabila pendapatan sektor pariwisata turun Rp 1 miliar saja, maka akan ada potensi 0,6 % jumlah pengangguran baru. Sebaliknya, apabila pendapatan itu naik Rp 1 miliar, maka akan ada tambahan tenaga kerja baru sebanyak 0,6 %.

“Itulah kenapa kami mempriotitaskan wisata menjadi yang pertama di ujicobakan dan didorong bangkit lagi produktivitasnya, karena memang wisata kunci penggerak perekonomian Yogya,” ujar Tri.