Yogya Tuan Rumah Pertemuan Kerajaan Nusantara

Yogyakarta : Komunitas Komunitas Pelestari Seni Budaya Nusantara akan menggelar Sarasehan Nasional Budaya Nusantara yang akan diikuti oleh raja-raja se-Indonesia sebagai sumber utama kearifan lokal sebagai jati diri bangsa.

Acara tersebut dilandasi oleh keprihatinan terhadap gempuran modernitas yang mengikis nilai-bnilai budaya geneasi muda.
Dukungan penuh diberikan oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X terhadap rencana tersebut.

Dukungan tersebut disampaikan Sri Paduka pada saat menerima audiensi Komunitas Pelestari Seni Budaya Nusantara, Senin (9/12) di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan,Yogyakarta.

Sri Paduka menyampaikan, sudah saatnya kearifan lokal yang merupakan warisan leluhur harus dilestarikan dengan cara menerapkan pada kehidupan sehari-hari. “Budaya kita mengajarkan segala hal yang bisa diterapkan dalam setiap lini kehidupan. Budaya kita adalah pendidik yang bisa menjadi bekal untuk hidup berdampingan dengan baik,” papar Sri Paduka.

Lemahnya akar budaya yang dimiliki oleh masyarakat dapat memicu gesekan pada setiap perbedaan. Padahal menurut Sri Paduka, hal tersebut tidak perlu terjadi apabila setiap individu memahami dan memegang teguh adat istiadat, budaya dan kearifan lokal peninggalan nenek moyang.
“Harus ada harmoni dan keselarasan dalam masyarakat meskipun banyak perbedaan. Kita analogikan dengan gamelan saja, apabila memiliki bunyi yang sama apakah akan ada keindahan komposisi suara? Tentu tidak. Perbedaan pada gamelan adalah unsur utama harmonisasi dan keselarasan. Ini yang harus kita terapkan,” ungkap Sri Paduka.
Lebih lanjut, Sri Paduka sangat mengapresiasi apa yang komunitas Komunitas Pelestari Seni Budaya Nusantara ini gagas.

Acara yang nantinya akan digelar di DIY pada Mei mendatang ini diharapkan mampu menghasilkan sesuatu yang positif terhadap kelestarian dan penerapan budaya Indonesia di masyarakat.
“Kita ini lebih dulu menggagas sistem memimpin dengan posisi di depan sebagai contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberikan dorongan melalui falsafah Tut Wuri Handayani. Itu lebih dulu ada dicetuskan Ki Hajar Dewantara, jauh sebelum ada literasi asing terkait sistem kepemimpinan. Nah, disitulah salah satu kekayaan budaya Indonesia,” papar Sri Paduka.
Ketua Komunitas Komunitas Pelestari Seni Budaya Nusantara, Glesos Yoga Mandira menyampaikan, tergerusnya budaya adiluhur yang sarat etika dan estetika oleh gencarnya arus informasi dan komunikasi menjadi dasar digelarnya acara ini.
“kami tergerak , untuk menggali kembali Nilai-Nilai Budaya yang bersumber dari Nilai-Nilai Kearifan Lokal sebagai warisan Leluhur Nusantara. Bagaimanapun kami juga merasa bertanggung jawab untuk melestarikan dan emmeprkuat akar budaya,” jelas Yoga.
Yoga menyampaikan keinginan untuk mengembalikan budaya kearifan lokal sebagai pendidikan dasar untuk membangun jati diri bangsa. Kekarifan lokal itu dapat diperoleh dari para aristokrat di Indonesia yang selama ini terasa termarginalkan. Untuk itulah Yoga menemui Wagub DIY. Dirinya menilai Sri Paduka adalah sosok yang tepat untuk dimintai arahan mengingat betapa besarnya kepedulian Sri Paduka terhadap kebudayaan dan pendidikan karakter. Dirinya berharap, dukungan dari Sri Paduka mampu menjadi pendorong bagi lestarinya kebudayaan adiluhur Indonesia
“Kami harap apa yang dilakukan bisa menjdai sumbangsih pada negara khususnya generasi penerus, dan mereka meyakini bahwa kita bukan bangsa pecundang tapi pemenang karena memiliki karakter kuat dan berbudaya,” tutup Yoga.  (Reny Hapsari)