Mengapa Hujan Es Yogya Lebih Dominan Berpotensi Terjadi di Perkotaan


BERITANET.ID : Sepekan terakhir fenomena hujan es menerjang dua wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

Hujan es pertama sempat dilaporkan terjadi pada 27 Februari 2021 di Kabupaten Sleman. Lalu pada 2 Maret 2021 hujan es kembali terjadi di Sleman disusul 3 Maret 2021, hujan es juga melanda Kota Yogyakarta termasuk Kabupaten Sleman.

“Dari pantauan kami, hujan es memang lebih sering terjadi atau umumnya terjadi di daerah perkotaan, dalam hal ini Kota Yogya dan Kabupaten Sleman,” ujar Kepala Stasiun Klimatologi Sleman, BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas 6 Maret 2021.

Meski dataran tinggi atau perbukitan hujan es juga berpeluang terjadi, namun Reni menduga tingginya frekuensi hujan es di perkotaan juga bisa dimungkinkan karena pesatnya pembangunan atau perubahan tata guna lahan yang terjadi.

“Perubahan tata guna lahan ini yang berpotensi menyebabkan terjadinya urban heat yaitu daerah yang memiliki fluktuasi suhu yang tajam,” ujarnya.
Reni pun mencoba menguraikan fenomena hujan es yang terjadi berturut di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman pada tanggal 2 dan 3 Maret 2021 lalu. Saat itu, pihaknya menemukan terjadi perbedaan suhu yang sangat signifikan pada pukul 10.00 WIB dengan pukul 07.00 WIB hingga di atas 4,5 derajad celcius untuk wilayah Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta.

Pada tanggal 2 Maret, selisih suhu pada pukul 10.00 WIB dengan pukul 07.00 WIB mencapai 6,1 derajad celcius. Lalu pada saat 3 Maret, selisih suhunya mencapai 5,2 derajat celcius.

“Dan pada saat itu kondisi cuaca Kota Yogya dan Kabupaten Sleman didukung kelembaban udara pada lapisan 700 Mb > 70 %, sehingga akhirnya memicu terjadi hujan es,” ujarnya.
Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman selama ini menjadi dua wilayah di DIY yang termasuk paling padat penduduknya yang diimbangi pesatnya pembangunan karena wilayah itu. Sentra sebaran ratusan kampus dan pemukiman pun terpusat di dua wilayah ini.

Untuk dampak terburuk dari hujan es ini apakah berpotensi melukai orang atau merusak bangunan, Reni menyebut sampai saat ini memang belum ada laporan signifikan dari masyarakat.
“Tetapi hujan es yang diameternya sebesar kelereng jelas dapat merusak atap rumah, dan jika butiran es sebesar itu di jalan raya jelas bisa membahayakan pengendara motor karena membuat jalan jadi licin,” ujarnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Nur Hidayat menuturkan hujan es yang pada Rabu (3/3) tidak bisa diprediksi karena sifatnya lokal.

“Hujan es di Yogya sebenarnya hanya seukuran kerikil dan tidak menimbulkan kerusakan,” ujarnya.
Hanya saja hujan es itu lalu disertai hujan lebat disertai angin kencang yang memicu adanya kejadian pohon tumbang di Terban, Tukangan, Jalan Brigjend Katamso dan di kompleks BLKPP Jalan Kyai Mojo.
Pohon tumbang menganggu akses jalan, menimpa garasi, gudang dan kabel. Beberapa atap rumah warga juga rusak dan luapan aliran Sungai Buntung menggenangi rumah warga di RT 51, RT 53 dan RT 57 di Kricak.
Selain itu pondasi rumah warga ambrol di Gondolayu Cokrodiningratan dan talut longsor Sungai Buntung sepanjang 3 meter dan tinggi 3 meter di Kricak Tegalrejo RT 35 RW 08 yang mengancam 1 bangunan rumah milik warga.
Ada juga talut longsor Sungai Buntung sepanjang 20 meter dan tinggi 3 meter di Kricak Kidul RT 38 RW 08.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menyebut ada dua lokasi paling terdampak hujan es disertai hujan lebat pada Rabu 3 Maret 2021 lalu. Yakni Padukuhan Blunyah Gede, Kalurahan Sinduadi, Mlati dan lokasi kedua Dusun Gatep, Kalurahan Purwobinangun, Pakem.
Pemukiman warga di wilayah itu terdampak banjir akibat luapan air drainase dan irigasi saat hujan deras dan sedikitnya 7 rumah dengan total penghuni sebanyak 15 kepala keluarga terdampak.

Sedangkan di lokasi kedua Dusun Gatep, Kalurahan Purwobinangun, Pakem, Sleman terdapat sedikitnya 30 rumah mengalami kerusakan atap akibat tumbangnya pohon saat hujan terjadi disertai angin kencang. (Red)