Foodbank of Indonesia Gandeng UGM Kampanyekan Makan Ikan untuk Anak

BERITANET.ID : Foodbank of Indonesia (FoI) bekerja sama dengan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar kampanye bertajuk 1000 Bunda sebagai Pahlawan Pangan bagi Balita, Peluncuran Kembali Pangan Lokal, Seri: Ikan untuk Anak #IUAK yang diselenggarakan di pendapa Kelurahan Mantrijeron Kota Yogyakarta, Sabtu (21/11/2020).

Dalam kegiatan itu, tampak para anak-anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Mutiara Bangsa 13 Mantrijeron Yogyakarta datang meramaikan dengan tetap tertib protokol kesehatan mengingat masih pandemi Covid-19.

Hendro Utomo, Founder Foodbank of Indonesia mengatakan gerakan Kembali Pangan Lokal Ikan Untuk Anak ini dibuat untuk mengkampanyekan kembali kegemaran makan ikan yang memang begitu banyak di Indonesia.

“Ikan merupakan salah satu sumber pangan bergizi yang diharapkan bisa mendongkrak kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Saat ini kami datang ke Yogyakarta, ibu-ibu langsung memasak dan dibagikan pada anak-anak. Harapannya, masyarakat menjadi gemar kembali masak dan makan ikan. Bisa dilakukan di rumah, dengan mudah, kreatif dan tidak harus mahal,” kata Hendro.

Hendro mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan di 25 kabupaten/kota. Dia mengakui, pandemi Covid-19 merusak dinamika pergerakan orang sehingga membuat perekonomian kolaps. Terkait dengan distribusi makanan, anak-anak pun masuk kelompok rentan. Untuk itu, pihaknya mendonasikan ikan bagi 20 ribu anak-anak PAUD.

Prof Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan UGM mengatakan tingkat konsumsi makan ikan masyarakat di DIY masih sangat rendah. Hal tersebut dirasa memprihatinkan namun menurut dia bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat.

“Ikan laut tidak murah harganya di pasar DIY, jadi memang sulit karena masyarakat tidak mencapai tingkatan membeli ikan. Akses ekonomi dalam hal ini terlihat. Lalu akses teknis, ikan di Jogja mana yang enak wong sudah mati tujuh kali baru dimakan, artinya ikan berkualitas itu tidak mudah diakses masyarakat. Akses budaya juga, budaya makan ikan di berbagai daerah tak hanya DIY belum sebagus masyarakat di tepi pantai atau dekat pantai,” ungkap Murdijati.

Guru besar UGM tersebut juga menyoroti masih adanya ikan asin atau ikan yang dikeringkan di era modern saat ini. Seharusnya menurut dia, pengolahan ikan harus lebih baik di era modern sekarang ini.

“Ikan kering dan ikan asin itu harusnya tidak ada lagi, sudah kuno itu. Itu sudah sejak jaman pra sejarah dulu. Harusnya sekarang bisa diolah lebih bergizi lagi dengan kemajuan teknologi. Banyak olahan ikan yang bisa dipilih masyarakat, tidak harus mahal,” ungkapnya lagi. (Red)