Soal Skenario Erupsi, BPPTKG : Merapi Tak Akan Ingkar Janji

BERITANET.ID : Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan tak ada perubahan perilaku Gunung Merapi yang kini statusnya sudah dinaikkan dari waspada menjadi siaga.

BPPTKG merespon hal itu guna menjelaskan pertanyaan besar apakah perilaku Merapi bakal berubah, dengan erupsi tak terduga yang sulit diantisipasi hingga dampaknya akan cukup dahsyat.

Seperti indikasi sering terjadinya guguran ke arah barat (arah Kabupaten Magelang Jawa Tengah) yang kemudian dikaitkan dengan perubahan perilaku Merapi saat ini.

“Merapi adalah tetap Merapi, tak ada perubahan perilakunya dan Merapi tak pernah ingkar janji,” ujar Kepala BPPTKG Hanik Humaida Rabu 11 November 2020.

Hanik membeberkan Gunung Merapi sendiri memiliki sedikitnya lima tipe erupsi. Diantaranya tipe erupsi freatik, erupsi sub plinian, erupsi vulkanian, erupsi tipe Merapi hingga tipe Merapi plus eksplosif.

“Jadi ketika aktivitas Merapi mulai naik, kemungkinan tipe erupsinya ya hanya diantara lima tipe tersebut, tidak ada perubahan perilakunya (di luar tipe itu),” ujar dia.

Hanik menuturkan saat ini memang belum bisa terbaca seberapa besar kekuatan erupsi Merapi. Karena kubah lava belum muncul.

Dengan belum munculnya kubah lava itu dipermukaan, maka juga belum bisa terbaca seperti apa jangkauan,  kecepatan dan arah lontaran material vulkanik (gas, padat, cair) yang dimuntahkan Merapi.

Meski kubah lava belum muncul, BPPTKG tidak hanya diam menunggu. Hanik mengaku pihaknya juga telah menghitung dan mempersiapkan skenario terburuk soal kekuatan erupsi.

Demi mengantisipasi jika Merapi bakal erupsi dengan kekuatan tak terduga melalui berbagai gejala yang dimunculkannya dari waktu ke waktu.

Salah satu skenario yang disiapkan jika Merapi erupsi eksplosif. Dengan menghitung lewat simulasi dan jangkauan potensi bahayanya.

Misalnya jika nanti ternyata kubah lava yang terbentuk di permukaan volumenya mencapai 10 juta meter kubik dan laju ekstrusi atau keluarnya magma sampai 100 ribu meter kubik per hari. Skenario ini melihat bukaan kawah di selatan dan barat.

Jika skenario itu benar, maka mitigasi bencana mau tak mau harus dievaluasi dan diubah demi mengatasi dampak buruk bencana.

Sebab, menurut Hanik, jika skenario itu terjadi, saat kubah lava yang terbentuk runtuh, akibatnya bisa memicu awan panas yang luncurannya bisa menerjang jauh ke arah sungai-sungai berhulu ke Merapi.

Dari simulasi sementara BPPTKG  dengan skenario terburuk itu, awan panas bisa mencapai 9 kilometer ke Kali Gendol dan 6 kilometer ke Kali Opak yang ada di wilayah Kabupaten Sleman juga sejauh 6 kilometer ke Kali Woro yang ada di Kabupaten Magelang.

Dari simulasi skenario terburuk itu awan panas juga bisa mengarah ke Kali Kuning sejauh 7 kilometer, Kali Boyong sejauh 6,5 kilometer, Kali Krasak 7 kilometer, Kali Putih 5 kilometer, Kali Senowo 8 kilometer, Kali Trising 7 kilometer dan Kali Apu 4 kilometer.

“Jadi kalau kubah lava itu sudah ada di permukaan akan bisa diketahui berapa kecepatannya, volumenya berapa,” ujarnya.

Hanik mengingatkan agar juga tak keblinger atau menerka dengan gejala-gejala erupsi Merapi yang muncul di awal. Belajar dari kasus erupsi 2006 misalnya.

Saat itu sebelum erupsi guguran material awalnya banyak mengarah sisi barat-barat daya. Tapi saat erupsi terjadi, ternyata volcano-pyroclastic flow atau awan panas atau yang dikenal warga dengan sebutan Wedus Gembel malah meluncur ke selatan.

“Potensi (luncuran material mengarah satu wilayah) itu selalu ada (dari membaca gejala), tapi juga tidak mutlak,” ujarnya.

BPPTKG menuturkan dari gejala yang dimunculkan Merapi saat ini atau ketika kubah lava belum tampak, potensi bahaya jika Merapi erupsi secara eksplosif dampaknya dihitung  berjarak maksimal 5 kilometer dari puncak.

Skenario erupsi Merapi yang disiapkan kali ini, juga membaca gejala kekuatannya belum mengarah sama atau melampui kekuatan erupsi tahun 2010 silam.

Namun, ujar Hanik, erupsi kali ini memang gejalanya sudah melampui erupsi 2006 yang mana saat itu terjadi ekstrusi magma secara efusif atau leleran, bukan letusan.

“Tapi walaupun seismisitas dan gejala seperti deformasi kali ini sudah melebihi erupsi 2006, kubah lava belum juga muncul, jadi potensi erupsi eksplosif kali ini kuat,” ujarnya