Cara Keraton Yogya Jaga Ribuan Abdi Dalem dari Potensi Penularan Corona
Abdi dalem Keraton Yogya (ist)

 

BERITANET.ID :  Keraton Yogyakarta menjadi salah satu obyek wisata utama yang sejak Juli lalu sudah ikut kembali beroperasi di masa pandemi Covid-19.

Dengan tingginya kasus baru akibat penularan wabah yang terus bertambah itu, Keraton Yogya juga ikut was-was karena selama ini ada ratusan bahkan ribuan abdi dalem yang setiap hari bekerja memberi pelayanan di keraton.

“Di Keraton itu kan selama ini bukan hanya turis yang datang, namun juga para abdi dalem yang kebanyakan sudah sepuh (lanjut usia),” ujar putri Raja Keraton Yogya Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Hayu di sela memberi bantuan kepada para warga terdampak demo ricuh Malioboro di halaman DPRD DIY Senin 12 Oktober 2020.

Pihak keraton menyadari, warga lanjut usia selama ini menjadi salah satu kelompok paling rentan tertular. Oleh sebab itu sejak wabah mulai merebak sejumlah aturan diterapkan khususnya mengatur jadwal pelayanan para abdi dalem itu. Agar mereka tidak terlalu banyak berkumpul dan berkerumun di keraton.

“Jumlah abdi dalem yang bekerja itu akhirnya juga sangat kami batasi,” ujar Hayu yang menjabat sebagai Penghageng (kepala divisi) Tepas Tandha Yekti atau bagian teknologi informasi dan dokumentasi Keraton Yogya itu.
Gusti Hayu memperkirakan jumlah abdi dalem Keraton yang bertugas di masa pandemi Covid-19 ini kemungkinan hanya tersisa sekitar 30 persennya saja dari jumlah keseluruhan.

“Sebelumnya abdi dalem yang bekerja mungkin 50 atau 30 persennya saja, namun kami kurangi lagi jumlah itu karena banyak abdi yang tetap sowan (datang),” ujar Hayu.

Jumlah abdi dalem Keraton Yogyakarta sendiri pada 2016 silam hampir mencapai 2.000 orang.

Keraton Yogyakarta memiliki dua jenis abdi dalem yakni Abdi Dalem Tepas yang tiap hari berkantor di Keraton dan Abdi Dalem Caos yang tak wajib atau hanya secara berkala saja berkantor di Keraton.

“Abdi dalem yang datang rutin ini yang kami tiadakan dulu (pelayanannya). Dari semula jumlahnya ratusan, sekarang tinggal puluhan saja dan abdi dalem tepas itu pun datangnya bergantian,” ujar Gusti Hayu.

Keraton Yogya juga meminta sebisa mungkin jika tidak ada hajat dalem (upacara yang digelar raja) yang besar, para abdi dalem itu dihimbau tidak datang dulu.

Gusti Hayu menuturkan, pihak keraton juga tetap menunggu aba-aba dari Pemerintah DIY terkait kondisi situasi Covid-19 dulu untuk aktivtas para abdi dalem itu.

Selain wisata dan aktivitas para abdi dalem, Keraton Yogya pun di masa pandemi ini juga memprioritaskan berbagai kegiatan akademis seperti penelitian-penelitian dengan obyek keraton dilakukan secara daring dulu.

“Tergantung juga penelitiannya apa, namun sekarang kan penelitian itu bisa request melalui email (surat elektronik). Tapi di masa pandemi ini juga tidak banyak permintaan penelitian itu,” ujarnya.

Sejak Juli 2020 lalu Keraton Yogya telah melakukan uji coba operasional terbatas di empat museum keraton dengan prosedur kebiasaan baru.

Keraton Yogya juga mengumumkan obyek yang mulai diujicobakan antara lain empat museum seperti Museum Keraton Pagelaran, Museum Kedhaton, Museum Kereta Keraton, dan Tamansari.

Gusti Kanjeng Ratu Bendara selaku Wakil Penghageng KHP Nityabudaya, yang membidangi museum dan pariwisata keraton, saat itu mengatakan ujicoba pembukaan wisata Keraton juga mengutamakan protokol kesehatan dan kedisiplinan wisatawan.

Di dalam kunjungan ke museum keraton, wisatawan harus mematuhi beberapa aturan. Seperti pengunjung akan dibagi dalam kelompok yang terdiri dari maksimal 10 orang, jarak antar kelompok 10 menit setelah kelompok tur sebelumnya masuk, dan pengunjung akan melakukan tur bersama edukator yang telah ditentukan.

Selain itu selama kunjungan pengunjung tidak diperkenankan untuk menyentuh benda atau koleksi museum serta hanya diberi waktu tur selama 45 menit. (ren)