Desa Berperan Penting Cegah Penyebaran COVID-19

BERITANET.ID : Beberapa waktu lalu, penambahan kasus COVID-19 di Yogyakarta sempat melonjak hingga 67 kasus dalam waktu sehari. Hal ini tentu menjadi perhatian dari berbagai pihak lantaran jumlahnya yang cukup banyak. Meski demikian, belakangan ini penambahan kasus COVID-19 mulai menurun.

Upaya pencegahan COVID-19 tak hanya dilakukan oleh pemerintah atau pejabat tertentu saja. Setiap elemen masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah penyebaran dan penularan COVID-19 di Yogyakarta. Termasuk masyarakat di pedesaan.

“Peran di tingkat desa itu yang menjadi kunci ke depannya untuk kita bersama-sama bisa mencegah penularan atau penyebaran covid ” ujar Biwara Yuswantono, Sekretaris Tim Gugus Tugas Pecepatan Penanganan COVID-19 DIY, saat sesi Ngobrolin Jogja ‘Menyimak Sinergi Masyarakat Pada Desa Tangguh Covid-19 di DIY’, Kamis (6/8/2020).

Mengingat pentingnya peran masyarakat di tingkat desa, pihaknya kini pun masih gencar melakukan sosialisasi soal COVID-19 di pedesaan. Ia menuturkan bahwa COVID-19 tak mengenal kawasan yang rawan maupun yang tidak.

Sebanyak 438 desa di DIY menjadi sasaran untuk sosialisasi COVID-19 ini. Desa Panggungharjo yang menjadi salah satu desa tanggap COVID-19 diharapkan memiliki pengorganisasian yang mampu menangani dari berbagai aspek. Mulai dari kesehatan, operasional, komunikasi, dan logistik.

“Seperti yang kita ketahui sampai saat ini bersyukur di DIY belum pernah terjadi kejadian-kejadian yang luar biasa seperti daerah-daerah yang lain penolakan ekstrim terhadap pemakaman kemudian juga terhadap pasien atau stigmatik atau penolakan-penolakan kita bersyukur itu tidak ada,” tuturnya.

Meski masa tanggap darurat COVID-19 masih berlaku di Yogyakarta hingga 31 Agustus 2020 nanti, ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada akan bahaya COVID-19. Pasalnya, aktivitas masyarakat kini mulai terlihat serta mobilitas untuk keluar masuk desa juga semakin tinggi.

Di sinilah masyarakat berperan penting untuk mencegah terjadinya penyebaran dan penularan. Menurutnya, pada momen inilah Desa Tanggap COVID-19 dan satgas (satuan tugas) desa memiliki peranan yang besar untuk mengontrol pergerakan masyarakat.

“Kami di aparat, Pol PP dan sebagainya kan tidak mungkin akan mengawasi semuanya yang tersebar di seluruh DIY itu,” katanya.

Dijelaskan bahwa masyarakat di Yogyakarta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan bangkitnya masyarakat saat bencana gempa bumi dan erupsi Merapi beberapa waktu lalu.

Ia pun menyinggung dengan adanya stigma negatif pada pasien positif COVID-19 atau pun mereka yang melakukan isolasi mandiri. Menurutnya, masyarakat tak perlu memandang negatif hal tersebut. Justru masyarakat harus memberikan semangat.

“Jangan kita beri stigma, tapi klo dia isolasi malah kita bantu dong dia isolasi untuk logistiknya,” tegasnya.

Wahyudi Anggorohadi, Kades Panggungharjo, Sewon, Bantul, menyampaikan bahwa pihaknya juga berupaya melindung warga desa yang tergolong dalam kelompok rentan terpapar COVID-19. Ia menyadari bahwa pemerintah pusat atau pun provinsi tak bisa menyelesaikan pandemi COVID-19 ini sendirian karena keterbatasan.

“Sumber daya kuncinya itu malah ada di warga desa. Dari sisi jumlah dari sisi kemampuan ekonomi dari sisi kompetensi itu jauh lebih banyak yang berada di desa sehingga kemudian warga desa harus membangun keberdayaan sosial itu,” tuturnya.