Klaster Baru Penjual Ikan Yogya, Ahli Epidemi UGM : Perlu Tracing Agresif

 

 

 

 

BERITANET.ID : Ahli epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad menyarankan perlunya tindakan cepat untuk meredam klaster penjual ikan di Yogya agar penularanya tak meluas.

Dari klaster penjual ikan itu sedikitnya enam orang sampai sekarang telah dinyatakan positif Covid-19 dan ratusan orang dipantau ketat.

“Perlu tracing yang agresif. Agar dapat mendahului kecepatan transmisi penularan,” ujar Riris, Minggu petang 7 Juni 2020.

Penularan penjual ikan menurut Riris
bisa disebut sebagai klaster baru jika riwayat paparannya sama.

Ia mengatakan definisi klaster adalah adanya beberapa kasus yang terhubung satu sama lain karena adanya riwayat paparan yang berhubungan.

“Misalnya dalam satu rumah tangga terdapat 2 kasus. Secara definisi kasus tersebut sudah merupakan sebuah klaster,” ujar Riris.

Hanya saja, ujar Riris, penamaan klaster biasanya hanya dilakukan pada klaster dengan jumlah kasus yang signifikan.

Klaster penjual ikan sendiri penularan mengarah pertambahan signifikan.

Kelompok ini dikategorikan sebagai klaster, pasca hasil penelusuran sejumlah kasus positif di Kabupaten Gunungkidul sejak akhir Mei 2020 lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Gunung Kidul Dewi Irawaty menjelaskan masih berlanjutnya penularan klaster penjual ikan ini setelah muncul dua tambahan kasus pasien positif baru di DIY pada 7 Juni 2020. Yakni kasus bernomor 245 dan 246.

“Kasus bernomor 246 adalah penjual ikan, masih dari klaster penjual ikan,” ujar Dewi Ahad 7 Juni 2020.

Kasus 246 itu ketika ditelusuri riwayatnya oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul memiliki riwayat kontak dengan kelompok penjual ikan di Gunungkidul yang sebelumnya sudah terkonfirmasi positif COVID-19 tanpa gejala atau orang tanpa gejala (OTG).

Awal mula klaster penjual ikan ini ketika ada aktivitas pedagang ikan lintas provinsi yang diantaranya merupakan pedagang ikan antar kota asal Gunungkidul. Pedagang itu memiliki riwayat berdagang hingga Semarang, Jawa Tengah.

Dewi menyebutkan setidaknya tercatat sudah 311 orang yang telah ditelusuri terkait klaster penjual ikan itu.

Pemda DIY sebelumnya mengidentifikasi empat klaster besar penularan COVID-19 di wilayahnya yakni klaster jamaah tabligh di Gunung Kidul, klaster jamaah tabligh di Sleman, klaster jemaat Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) di Kota Yogyakarta, serta klaster Indogrosir.

(Red/Rls)