Yogya Ajak Pegiat Literasi Lawan  Intoleransi 

Yogyakarta : Sekretaris Daerah DI Yogyakarta  R. Kadarmanta Baskara Aji tak menampik faktor multikulturalisme dan kompleksitas yang ada di wilayah DIY belakangan kerap menimbulkan gesekan di akar rumput yang salah satunya berujung aksi intoleransi.

“Sebagai Indonesia mini, segala macam peristiwa di DIY menjadi magnet bagi pemberitaan nasional dan internasional. Tidak terkecuali masalah intoleransi,” ujar Aji saat berbicara di forum Lokakarya Merajut Toleransi melalui Bahasa dan Sastra, di Balai Bahasa DIY, Gondokusuman, Yogyakarta 9 Desember 2019.

Aji menuturkan melawan intoleransi salah satunya yang paling efektif dengan membangun kesadaran melalui tulisan dari para penggiat literasi di DIY.

“Tulisan bisa menjadi edukasi efektif yang mengubah pola pikir sehingga menekan intoleransi, namun tulisan juga bisa sebaliknya, menjadi pemicu intoleransi,” ujar Aji.

Aji menilai tulisan merupakan alat yang paling mujarab dibandingkan dengan propaganda dengan berbagai cara untuk menangkal suatu masalah. Tidak terkecuali untuk menangkal intoleransi yang dikhawatirkan jika terus dibiarkan akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa.  

Aji menyampaikan, menghadapi intoleransi harus ada pihak yang mengambil peran untuk melakukan sosialisai dan mengedukasi masyarakat terkait bangunan bahwa Yogya seharusnya menjadi rumah toleran bagi siapapun.

Untuk itu, menurutnya, sangat perlu adanya pemangkasan bibit intoleransi dari yang terkecil. Perlu adanya pembentukan pola pikir yang tepat untuk memangkas bibit intoleransi tersebut.

“Tugas kita adalah memberikan contoh salah satunya lewat tulisan, bahwa keberagaman yang dimiliki harus menjadi potensi kebersamaan. Bagaimana masyarakat sadar untuk saling mengisi, saling menghargai dan saling berempati,” ujar Aji.

Aji percaya literasi di era keterbukaan informasi saat ini bisa membawa manfaat positif namun juga negatif. Kepada para pegiata literasi, Aji berharap terus lahir literasi yang mengedukasi agar intoleransi kian dapat ditekan.

“Perilaku seseorang diolah oleh pikiran, kemudian menjadi aksi. Bagaimana mengubah perilaku intoleran ini menjadi tindakan penuh toleransi dengan memberikan pemahaman kepada sekelompok orang,” ujarnya.

Kepala Balai Besar Bahasa DIY Pardi menuturkan lokakarya ini digelar sebagai wujud keprihatinan terhadap kasus intoleransi yang mencuat di DIY.

Untuk itu pihaknya mengundang sekitar 70 pegiat literasi  untuk ikut serta memberikan sumbangsih melalui tulisan untuk melawan intoleransi di Yogya.

“Kami berupaya menghasilkan karya karya untuk melawan intolensi. Tulisan adalah hal yang paling tepat untuk mempengaruhi pola pikir,” ujar Pardi.

Survei dari Setara Institute terakhir menyebut telah terjadi peningkatan kasus intoleransi di wilayah Yogyakarta.

Survei itu menyebut Yogyakarta telah masuk menjadi 10 daerah dengan jumlah kasus pelanggaran kebebasan berkeyakinan/beribadah tertinggi di tanah air selama lima tahun belakangan. (Wit)