Sleman Lakukan Inovasi Regulasi Pendidikan Lewat GSM

YOGYAKARTA: Kolaborasi antara Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman mampu memancing berbagai inovasi dan peningkatan kualitas di sekolah-sekolah pinggiran.

Satu bulan telah berlalu sejak GSM dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman menggelar workshop dalam rangka percepatan penerapan sekolah menyenangkan.

Total 25 sekolah rintisan sudah memulai perubahan dan menuai hasil positif dari ekosistem menyenangkan di sekolah. Tak heran, Bupati Sleman Sri Purnomo pun menyampaikan apresiasi dan kekaguman terhadap gerakan akar rumput yang menyasar sekolah-sekolah marjinal ini.

“Apresiasi saya berikan kepada bapak dan ibu guru yang sudah memulai perubahan bersama gerakan sekolah menyenangkan. Di negara maju, hampir semuanya praktek sekolahnya itu menyenangkan. Saya rasa fasilitasnya tidak jauh berbeda, tapi sistemnya dan metodenya berbeda. Anak-anak sepulang sekolah itu senang, tidak terbebani. Saya percaya di Sleman, kita akan sama-sama maju. Anak-anak tidak hanya cerdas secara keilmuan, tetapi juga spiritual dan sosial,” ujar Bupati Sleman, Sri Purnomo.

“Peraturan Bupati sudah kita siapkan dan kita segerakan. Perbup itu nanti diluncurkan supaya gerakan ini bisa menyeluruh, terpayungi dan terlaksana dengan baik. Tidak hanya temporer, tapi berkelanjutan. Isi kebijakan ini tentu saja mendukung persebaran GSM, kemudian meningkatkan kualitas guru-guru, sebagaimana konsep Periode Kedua Jokowi adalah menyiapkan SDM unggul,” tandas beliau dalam acara ‘Launching Gerakan Sekolah Menyenangkan’ di SMP Negeri 2 Sleman, salah satu sekolah model GSM.

Hal senada turut disampaikan oleh Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM, ketika menyaksikan perubahan positif ini. “Kolaborasi antara GSM dan Pemerintah Daerah Sleman ini ditujukan untuk mempercepat implementasi sekolah menyenangkan di Kabupaten Sleman. Target akhirnya adalah pemerataan kualitas pendidikan di seluruh aspek, sebab keberpihakan tegas

GSM adalah mengangkat mutu pendidikan di sekolah-sekolah negeri non-favorit dan sekolah marjinal (pinggiran),” ujar Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada itu.

“Inovasi dan revitalisasi profesionalisme guru sulit dibangun jika tata kelola birokrasinya tidak ikut berubah. Untuk itu, GSM mengajak Kabupaten Sleman serta pemerintah daerah lain untuk percaya kepada guru dalam menciptakan ekosistem agar mereka bebas berinovasi di kelas. Jadi, Kabupaten Sleman diharapkan mampu memutus akar permasalahan pendidikan, yakni “gemuknya” aturan yang mengakibatkan minim kepercayaan,” tandasnya.

GSM sebagai gerakan akar rumput di bidang pendidikan telah dan akan terus mengubah paradigma masyarakat akan pendidikan serta orientasi kebijakan pendidikan pemerintah agar sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam prosesnya, GSM berjuang untuk memangkas tajamnya ketimpangan antara sekolah favorit dan pinggiran. Pendidikan berkualitas seharusnya menjadi hak semua anak dan sekolah, bukan hanya untuk segelintir golongan kelas atas.

GSM digagas pertama kali oleh Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra pada bulan September 2014.
Platform GSM terbukti mampu meningkatkan kualitas guru serta ekosistem pendidikan di sekolah-sekolah pinggiran. Sejauh ini, GSM telah menyebarkan pengaruh ke berbagai area di Indonesia, termasuk Yogyakarta, Semarang, Tebuireng, Tangerang, hingga beberapa kota di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Di Yogyakarta sendiri terdapat 84 sekolah model yang sudah menyebarkan imbasnya kepada lebih dari ratusan sekolah. Harapannya, dengan meluaskan gerakan ini, ketimpangan kualitas pendidikan yang selama ini kasat mata pun pelan-pelan akan terkikis oleh transformasi akar rumput. (Wit)