Cak Nun Satu Panggung dengan Ebiet G Ade di Panggung Alumni Muhi

YOGYAKARTA: Bukan Cak Nun kalau tidak bicara blak-blakan apa adanya. Begitu pula saat dia mengisi acara Pergelaran Seni Indonesia Bersyukur Pesan Perdamaian dari Muhi Jogja, Ahad (17/3/2019) malam, di Plasa Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Dalam suasana hujan deras, Cak Nun sebagai alumni Muhi angkatan 1971 bercerita dirinya masih ingat dan bisa membayangkan seperti apa kondisi gedung sekolahnya waktu itu.

Dinding ruang kelas terbuat dari gedhek atau anyaman bambu. Namanya juga anak SMA wajar apabila muncul keusilan.

Iseng-iseng, gedhek itu pun dithithili, dicabuti dan dipatahkan satu demi satu hingga bisa digunakan untuk nginjen (mengintip) pelajar putri saat memasuki halaman sekolah.

“Saya menyesal Muhi sekarang dibangun bagus. Zaman saya SMA, roke semene,” ujar Cak Nun sedikit mengangkat kakinya seraya menunjuk bagian di atas lutut.

Dulu, seragam seperti itu hal biasa. Belum ada kerudung atau jilbab seperti para pelajar sekarang ini.

“Karena jiwa kita waktu itu masih murni sehingga tidak terangsang. Saiki, nganggo jilbab rambute metu sithik wae…..” ujarnya disambut tawa.

Meski lokasi acara pergelaran seni digenangi air di sana sini, kehadiran Emha Ainun Nadjib dan para tokoh penting lainnya termasuk Busyro Muqoddas setidaknya membuat suasana menjadi lebih hangat, sekaligus menciptakan momentum langka saat Cak Nun dan Ebiet G Ade bertemu di satu panggung.

Ebiet G Ade mengakui dirinya sudah sangat lama tidak bertemu sahabatnya itu. Sebagai semacam obat rindu, dia lantunkan sebuah lagu yang liriknya diambilkan dari salah satu puisi karya Cak Nun.

“Saya sulit bertemu Cak Nun mungkin karena pergerakan anginnya berbeda,” kata Ebiet, alumni Muhi 1974 itu.

Terdengar teriakan meminta keduanya duet membawakan satu lagu. Namun karena malam itu bersamaan dengan pengajian rutin Macapat Syafaat di Kasihan Bantul, Cak Nun harus berbagi waktu untuk bertemu jamaah Maiyah.

Pada acara yang dipandu KRTM Indro Kimpling dan Indria Sastrotomo itu, selama lebih kurang 20 menit Cak Nun juga bercerita mengenai guru yang menghukumnya. Juga teman-teman dekatnya.

Salah seorang yang paling diingat sekaligus paling dia takuti sampai sekarang adalah HM Syukri Fadholi, alumni Muhi angkatan 1970 yang pernah menjadi Wakil Walikota Yogyakarta.

Lebih jauh saat mengisi sesi khusus bertema Bersyukur ala Cak Nun, dia menyampaikan bersyukur tidak harus menunggu kaya.
“Bersyukur ra sah ngenteni nduwe duit akeh. Tidak ada alasan untuk setiap detik selalu bersyukur,” ungkapnya.

Dia tidak setuju apabila rasa syukur harus berupa kegembiraan dan harta benda. Sebab ujian dan cobaan dari Allah SWT juga merupakan bentuk rasa syukur.
“Punya duit banyak bisa berarti hukuman, ujian atau peringatan. Alat bersyukur bisa apa saja,” kata dia.

Dalam kesempatan itu Cak Nun mengajak semua yang hadir merenungi sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW, mati adalah nasihat yang terbaik.

Pergelaran Seni Indonesia Bersyukur Pesan Perdamaian dari Muhi Jogja dibuka penampilan tari Saman oleh grup Tari Saman Musa Ratu.

Grup yang diawaki para pelajar Muhi ini dua kali berturut-turut meraih kejuraan dunia pada event di Rusia dan Turki serta dijadwalkan Mei mendatang pentas di Italia.
Penampilan OM Mawes juga menambah pergelaran seni kali ini menjadi lebih bermakna sebagai ajang bertemunya alumni Muhi dari semua angkatan.
Hadir pula malam itu, kepala sekolah Tri Ismu Husnan Purwana maupun staf ahli Gubernur DIY, Tri Mulyono.
Sedangkan Ketua Umum Pengurus Pusat Alumni (PPA) Muhi Yogyakarta periode 2018-2022, Mahyudin Al Mudra, tampil membawakan karya pantun.
Selain itu, Mahyudin juga membagikan buku karyanya sebagai hadiah untuk alumni tertua. (Ad.Wic)