Jajal Main Ke Surganya Motor Kuno di Yogya, Edan Koleksinya…
dav

YOGYAKARTA: Berkunjung ke Kota Gudeg, Yogyakarta, memang belum lengkap rasanya jika belum menginjakkan kaki di Malioboro.

Namun, mungkin belum banyak yang tahu, kalau tak jauh dari Malioboro itu, tepatnya di jalan Kiai Haji (KH) Ahmad Dahlan nomor 88, ada sebuah museum bernama Merpati Museum yang menyimpan ribuan mobil, motor, dan sepeda kuno dan antik berbagai tahun dan merek.

Museum ini dulunya merupakan dealer Ahass Honda.  Sekilas dari luar casing museum memang seperti fasad ala dealer Ahass yang berciri garis merah membingkai bidang putih di tengah.  Bedanya tak ada lagi tulisan Ahass lagi di tengah bingkai, tapi berganti Merpati.

“Sebenarnya dealer ini sudah lama saya ubah jadi museum, tapi resminya museum ini baru pakai tiket untuk pengunjung mulai Juli 2018 lalu,” ujar David Sunar Handoko, pemilik museum Merpati saat ditemui Sabtu pagi 9 Maret 2019.

Pengusaha otomotif yang mendirikan dealer motor baru dan bekas Merpati Group dengan enam cabang itu menuturkan, dirinya terdorong mendirikan museum itu awalnya karena gerah saat sedang berada di Amerika tahun 1990 awal.

Saat itu, ia mendapati ada kontainer-kontainer di negeri Paman Sam tengah mengangkuiti berbagai motor klasik berbagai merek.

Handoko pun menanyakan asal motor-motor itu dan ia kaget bukan kepalang ternyata motor-motor itu diangkut dari Indonesia !

“Saat itu saya baru tahu, Indonesia sebenarnya surganya motor klasik, sebaran motor klasik (usia di atas tahun 1970) di dunia itu terbanyak pertama di Amerika dan kedua Indonesia,” ujar Handoko.

Suami dari Ratnawati Wiguna itu lantas bergegas pulang ke tanah air. Ia pun mulai berburu motor-motor tua ke berbagai pelosok Indonesia yang hargaanya saat itu masih sangat rendah berkisar di bawah 10 jutaan.

“Motor tua yang pertama saya beli itu di tahun 1989, Harley Davidson Sportster tahun 1959 harganya Rp 5 juta saat itu,” ujarnya.  

Namun saat ini, pria kelahiran 12 November 1955 itu sudah memiliki 400 motor tua mulai tahun 1916-1980.  Sebanyak 300 motor didisplay di museum dan 100 unit lainnya masih dalam tahap dibangun ulang di bengkelnya.

Handoko juga memiliki 60 unit mobil tua keluaran 1925-1983 serta juga 500 sepeda kuno keluaran 1890-1970. Sepeda kuno koleksinya tersebar di lantai satu dan dua museum itu saking banyaknya.

Tak hanya itu, Handoko pun juga mengkoleksi 500 an die cast dengan keluaran mulai tahun 1995.

Koleksi die castnya semakin banyak saat Indonesia di akhir periode 1990 an atau jelang awal 2000 sempat dibanjiri barang-barang penjualan para hacker yang kala itu masih bebas berkeliaran di jagad maya.

Handoko juga merupakan kolektor patung Eropa, radio kuno, seterika kuno, arloji, kacamata, sampai batu mulia/batu gambar.

Pengunjung Merpati Museum sendiri dikenai biaya Rp 40 ribu per orang dan bisa sepuasnya melihat koleksi motor, mobil, dan sepeda klasik di situ mulai pukul 09.00 – 16.00 WIB mulai Senin hingga Sabtu.

Handoko punya harapan, dengan museum itu, di masa depan generasi muda masih bisa melihat dan menemukan kendaraan-kendaraan legendaris yang pernah ada.

“Ini aset untuk anak cucu kita ke depan, ini lho Indonesia dulu ada kendaraan ini,” ujarnya. (Ad.Wic)