Bengkel Yogya Ini Diam-Diam Hidupkan Lagi Pamor Honda NSR 
dav

YOGYAKARTA: Generasi remaja tahun 1990 an bakal tak asing mendengar nama Honda NSR.

Motor sport dua tak dengan kapasitas mesin 150 cc itu diperkenalkan ke tanah air mulai tahun 1994 dan akhirnya stop produksi sekitar tahun 2002.

Honda NSR pun akhirnya menjadi legenda tersendiri bagi pecintanya melalui empat tipe yang dikeluarkan selama periode produksi. Mulai dari NSR150 R, NSR 150 RR Astra, NSR 150 New RR, dan terakhir NSR 150 SP.

Setelah berhenti diproduksi, bukan lantas NSR menghilang. Justru harga jual motor ini melambung karena menjadi buruan kolektor yang ingin bernostalgia memilikinya. Untuk seri terakhir, NSR 150 SP harga yang sempat ditawarkan hampir setara Kawasaki Ninja 650R atau ER-6f.

“Untuk seri NSR 150 SP, harganya sekarang bisa sampai Rp 100 juta,” ujar pecinta NSR sekaligus pendiri bengkel khusus NSR di Yogya, Kadal Balap, Seco Pulung Gono Selasa 26 Februari 2019.

Pulung yang juga pendiri komunitas motor yang biasa berlatih balapan di Stadion Maguwoharjo, Jogja Cornering itu menuturkan, tingginya harga NSR karena motor itu benar-benar langka.

“Jumlahnya terakhir kopdar (kopi darat-kumpul) di Jakarta tahun kemarin mugkin sekitar 200 an motor saja, itu yang mesinnya masih normal dan bisa dipakai,” ujar mekanik yang mendalami mesin NSR selama delapan tahun terakhir itu.

Pulung yang kerap disapa di kalangan pecinta motor dengan nama Mbah Suhu itu mengakui, NSR bak legenda yang terlahir dalam kondisi tak sempurna.

Sehingga jika motor itu rusak, oleh para pemiliknya tak lagi diurus alias dongkrok kalau tidak dijual.

“Banyak bengkel menyerah kalau menangani kerusakan NSR karena komponen spare part susah dicari, mahal, dan mesinnya rumit karena menerapkan teknologi otomatisasi yang tak banyak diketahui mekanik,” ujarnya.

Setelah lama meriset NSR 150 RR miliknya, Pulung menyimpulkan motor itu seolah terlahir sebagai produk gagal. Sehingga pemiliknya harus merombak mesinnya dulu jika ingin NSR nya tampil garang layaknya motor 2 tak yang tak rewelan.

“NSR kelemahan utamanya terletak pada mesin RC Valve-nya yang gampang rusak, sekali bagian itu rusak selesai, parahnya ini bawaan pabrik jadi mau tak mau pemilik harus menyiasatinya sendiri,” ujarnya.

RC Valve ini merupakan teknologi sistem katup yang diusung NSR sebagai motor 2-tak yang berfungsi mengatur besaran lubang buang secara elektronis. Kinerja sistem ini mempengaruhi tenaga yang dihasilkan agar maksimal sesuai putaran mesin.

Saat RC Valve ini rusak, mesin NSR segera mengalami kebocoran dan menyerang bagian krengkes atau bak engkol tempat rumah komponen mesin. Pembakaran jadi tak sempurna dan mesin cepat over heat. Seher pun rentang mengunci sendiri ketika tarikan panjang.

“Sistem mesin 2 tak kan ada rumusnya semua, tapi itu seperti tak berlaku untuk NSR, sehingga mesinnya gampang sekali rewel hanya gara-gara chip RC Valve nya itu,” ujarnya.

Sayangnya, ujar Pulung, masyarakat terlanjur percaya jika teknologi bawaan pabrikan pasti sempurna. Sehingga sebgain pecinta NSR kerap ngotot, jika mesin bawaan NSR sempurna.

“Logikanya, NSR motor 2 tak, tapi suara mesinnya kok seperti basah? Itu aneh, kenapa tidak seperti Yamaha RX King atau Kawasaki Ninja yang mesinnya kering,” ujarnya.

Untuk menyiasati rewelnya mesin NSR itu, Pulung pun melakukan sejumlah modifikasi yang sampai kini hasil modifikasinya menjali langganan pecinta NSR berbagai daerah.

“Yang jelas pertama yang saya lakukan membuang fungsi RC Valve bawaan NSR itu, agar mesin stabil dulu, pengapian sempurna, baru kemudian dibentuk sesuai kebutuhannya untuk racing, touring atau harian,” ujarnya.

Menurut Pulung, sia-sia saja pemilik mencoba memperbaiki bagian RC Valve NSR itu karena sejak awal tak mendukung kinerja mesin 2 tak. Toh jika bisa menemukan spare part itu, harganya bisa mencapai Rp 4 juta untuk original dan tak berselang lama akan kembali rusak.

“NSR tanpa RC Valve itu bisa lebih garang dari Suzuki RGR, RX King, dan Ninja,” ujarnya. (Mar)