Proliga 2019: Jakarta Pertamina Masih Pendam Kecewa Pada Wasit
CAPTION: Tim Putra Jakarta Pertamina Energy di sela latihan di GOR Amongrogo Yogya. (Mar)

YOGYAKARTA: Tim putra Jakarta Pertamina Energy (JPE) bakal menjamu Palembang Bank Sumsel Babel dalam perebutan posisi ketiga Grand Final Proliga di GOR Amongrogo Yogyakarta Minggu, 24 Februari 2019.

Namun jelang jalan pamungkas itu, Jakarta Pertamina mengakui masih memendam rasa kecewa pasca langkahnya menuju grand final terganjal Surabaya Bhayangkara Samator dalam final four putaran kedua di GOR Ken Arok Malang, Sabtu 16 Februari 2019 lalu.

Bukan kecewa karena kekalahan telak 0-3 atas Samator yang membuat tim asuhan Putut Marhaento itu meradang,

Melainkan kinerja wasit yang dinilai tak mumpuni memimpin hingga membuat permainan Antho Bertiyawan cs tak berkembang.

“Ya masih kecewa (kinerja wasit saat lawan Samator), cuma kami tak mau mengkambing hitamkan, jadi pembelajaran saja,” ujar pelatih tim putra Jakarta Pertamina Energi, Putut Marhaento kepada Tempo Jumat 22 Februari 2019.

Putut berharap dalam laga pamungkas ini, timnya benar-benar berharap dapat dipimpin wasit yang benar-benar professional.

“Jangan sampai tim sudah capek-capek latihan, lalu dipimpin wasit yang kemampuannya tidak cukup, itu kan sayang,” ujarnya.

Putut menegaskan, menang kalah hal biasa bagi timnya asal dilakukan secara sportif. Namun jika kemenangan dan kekalahan itu dipengaruhi factor  seperti wasit ia sangat menyesalkan.

“Apalagi laga kemarin (saat lawan Samator) menjadi tahap kritis (untuk lolos grand final), dengan wasit seperti itu jelas sangat berpengaruh bagi tim,” ujarnya.

Dalam laga final four saat itu, Samator menggilas Jakarta Pertamina dengan kemenangan 3-0 (25-23, 25-22, 25-17).

“Saat (lawan Samator) itu kan jelas bola (Jakarta Pertamina) jelas-jelas sudah masuk (dapat poin) tapi tak dihitung, pemain lalu emosi,” ujarnya. Putut mencatat setidaknya saat itu timnya mendapat dua kali bola tassball dan yang kedua bola double.

 “Kalau pemain sudah emosi itu kan mengurangi ball feeling, mental dan konsentrasi pemain saat itu hilang,” ujarnya.

Meski kecewa dengan kepimpinan wasit saat itu, Putut menuturkan tak akan dendam apalagi sampai menggunakan cara-cara tak sportif. Misalnya memesan siapa wasit yang dipilih untuk memimpin.

“Dapat wasit yang sama saat lawan Bank Sumsel besok pun tak masalah, “ ujarnya.

Menghadapi Palembang Bank Sumsel Babel ini, Putut memastikan anak asuhnya sudah kembali pulih dan mental kuat untuk menang meski hanya perebutan posisi ketiga.

“Posisi ketiga kan juga disebut juara, tiga lebih baik daripada tidak sama sekali,” ujarnya. (Mar)